Dolar AS Menguat, Rupiah Melemah ke 16.692 per USD Hari Ini

Dolar AS Menguat, Rupiah Melemah ke 16.692 per USD Hari Ini
Dolar AS Menguat, Rupiah Melemah ke 16.692 per USD Hari Ini

ajibata, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah pada awal perdagangan Rabu (10/12/2025). Mata uang Garuda dibuka di level Rp 16.692 per dolar AS. Angka tersebut turun 16 poin atau setara 0,10% dari posisi sebelumnya Rp 16.676. Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap dinamika kebijakan ekspor terbaru.

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, pelemahan rupiah dipicu oleh respons investor terhadap revisi aturan Dana Hasil Ekspor (DHE). Kebijakan ini menjadi fokus baru pasar karena menyangkut aliran devisa domestik. Dengan demikian, sentimen mata uang bergerak lebih sensitif.


Revisi Kebijakan DHE Jadi Pemicu Utama Tekanan Rupiah

Selain penurunan tadi, pasar juga menilai isi revisi DHE cukup strategis. Dalam aturan baru, eksportir tidak wajib mengonversi seluruh hasil devisa ke rupiah. Mereka hanya harus mengonversi 50% dana ekspor, sedangkan sisanya dapat tetap berbentuk valuta asing. Kebijakan ini memberi fleksibilitas untuk dunia usaha.

“Investor merespons revisi kebijakan Dana Hasil Ekspor yang dianggap mampu memperkuat rupiah ke depan,” ujar Josua.

Sebagai catatan, kebijakan tersebut tertuang dalam PP No. 8 Tahun 2025 tentang DHE SDA. Aturan ini berlaku sejak 17 Februari 2025. Pemerintah menegaskan bahwa dana ekspor wajib masuk ke sistem keuangan nasional. Masa penempatan minimal berlangsung selama 12 bulan, sehingga cadangan devisa lebih terjaga.

Namun terdapat pengecualian. Untuk sektor minyak dan gas, kewajiban penempatan hanya 30%, dan masa simpan minimal 3 bulan. Pemerintah memberikan ruang agar arus kas industri migas tidak terganggu.

Selanjutnya Josua memproyeksikan rupiah bergerak pada rentang Rp 16.625 – Rp 16.725 per dolar AS sepanjang hari. Arah rupiah akan sangat dipengaruhi reaksi eksportir serta data ekonomi global.


Data Penutupan Terakhir: Rupiah Sempat Menguat Sebelum Turun

Sebelum pelemahan hari ini, rupiah sempat ditutup menguat pada Selasa (9/12/2025). Pengamat valas Ibrahim Assuaibi menyebut rupiah menguat 19 poin ke posisi Rp 16.676 dari sebelumnya Rp 16.695. Kondisi tersebut terjadi karena pasar berharap The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Menurut Ibrahim, peluang pemangkasan suku bunga mencapai 87%. Ekspektasi itu muncul setelah inflasi AS terlihat melambat. Selain itu, pasar menunggu data ketenagakerjaan terbaru. Jika data turun dari perkiraan, peluang pelonggaran moneter bisa semakin besar.

Meski demikian, investor tetap berhati-hati. The Fed belum memberi sinyal tegas soal arah kebijakan. Beberapa pejabat masih melihat ekonomi AS cukup kuat. Dengan begitu, proses pemangkasan suku bunga mungkin berjalan lambat.


Faktor Eksternal Ikut Tekan dan Dorong Pergerakan Rupiah

Selain soal suku bunga, kondisi geopolitik dunia memberi pengaruh tambahan. Ukraina dikabarkan menyiapkan proposal perdamaian baru. Proposal tersebut akan dibahas dengan Amerika Serikat dan negara Eropa. Jika tercapai kesepakatan, distribusi minyak Rusia ke pasar global mungkin kembali pulih.

Di satu sisi, peningkatan pasokan minyak bisa menekan harga energi. Kondisi ini berpotensi menurunkan tekanan inflasi negara importir seperti Indonesia. Namun di sisi lain, perubahan suplai energi juga bisa mengganggu arus modal global. Investor dapat memindahkan aset ke pasar lain yang dianggap lebih stabil.

Dengan demikian, pergerakan rupiah bersifat campuran. Tekanan eksternal masih kuat, tetapi peluang penguatan tetap terbuka.


Faktor Domestik: Bank Dunia Soroti Utang Pendek Indonesia

Bank Dunia mencatat kenaikan utang luar negeri jangka pendek Indonesia sepanjang 2024. Angka tersebut mencapai USD 65,12 miliar, naik 29,1% dari tahun sebelumnya. Lonjakan terjadi akibat penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga stabilitas rupiah.

Kenaikan utang jangka pendek memang menjadi perhatian pasar. Namun analis menilai fundamental Indonesia masih cukup baik. Konsumsi domestik stabil, cadangan devisa kuat, dan ekspor komoditas besar masih menopang perekonomian.

Selain itu, revisi DHE diharapkan meningkatkan aliran devisa masuk. Jika eksportir aktif memanfaatkan skema baru, ketersediaan dolar domestik dapat meningkat. Dengan begitu, rupiah dapat memperoleh ruang penguatan bertahap.


Prospek Rupiah: Berpotensi Menguat jika Data Ekonomi Mendukung

Dalam jangka pendek, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif. Faktor global dan arah kebijakan ekspor akan menjadi penentu utama. Jika The Fed menurunkan suku bunga sesuai prediksi pasar, arus modal asing kemungkinan kembali menguat.

Ke depan, pasar akan menunggu data ketenagakerjaan AS dan volume DHE yang masuk pada kuartal berikutnya. Jika realisasi distribusi devisa meningkat, tekanan rupiah dapat berkurang. Selanjutnya, stabilisasi nilai tukar bisa menjadi dasar penguatan ekonomi nasional.


Kesimpulan

Rupiah dibuka melemah ke Rp 16.692 per dolar AS. Sentimen pasar dipengaruhi revisi aturan Dana Hasil Ekspor dan prediksi kebijakan Federal Reserve. Sementara itu, utang jangka pendek Indonesia meningkat, tetapi fundamental ekonomi masih stabil. Dengan dukungan kebijakan tepat, peluang penguatan rupiah tetap terbuka.al bergerak positif.

baca juga di sini : Kakanim Bengkulu Terima Kunjungan Kepala Kantor Wilayah Haji & Umroh: Perkuat Sinergi Layanan Paspor

pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak