ajibata, Jakarta – Harga sejumlah bahan pokok bergerak naik menjelang libur Natal dan Tahun Baru. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat cabai rawit merah menembus Rp 52.850 per kilogram. Pada saat yang sama, telur ayam ras berada di Rp 33.800 per kilogram, Rabu (24/12/2025).
Kenaikan harga komoditas hortikultura biasanya muncul saat permintaan meningkat. Selain itu, musim hujan sering menekan pasokan dari sentra produksi. Akibatnya, harga mudah berfluktuasi di tingkat pedagang eceran.
Di sisi lain, lonjakan harga tidak terjadi merata pada semua komoditas. Beberapa harga masih relatif stabil, terutama pada produk yang pasokannya lebih terjaga. Namun, cabai tetap jadi sorotan karena sensitif terhadap cuaca dan distribusi.
Baca Juga: Update Harga Emas Batangan 24 Karat per 23 Desember 2025
Data PIHPS Bahan Pokok: Bawang, Beras, dan Cabai Lain Ikut Bergerak
PIHPS juga mencatat bawang merah Rp 52.200 per kilogram. Sementara itu, bawang putih Rp 39.650 per kilogram. Pergerakan dua komoditas ini kerap mengikuti dinamika pasokan harian.
Untuk beras, PIHPS menampilkan rentang harga berdasarkan kualitas. Beras kualitas bawah I tercatat Rp 13.300 per kilogram. Lalu, beras kualitas bawah II berada di Rp 12.600 per kilogram.
Beras kualitas medium I dipatok Rp 15.000 per kilogram. Kemudian, medium II berada di Rp 14.100 per kilogram. Adapun beras kualitas super I tercatat Rp 16.000 per kilogram, sedangkan super II Rp 15.200 per kilogram.
Selain cabai rawit merah, harga cabai lain juga tercatat. Cabai merah besar berada di Rp 43.600 per kilogram. Selanjutnya, cabai merah keriting tercatat Rp 37.200 per kilogram. Cabai rawit hijau berada di Rp 26.350 per kilogram.
Konsumen biasanya merasakan dampak paling cepat pada cabai dan bawang. Dua komoditas itu sering dibeli harian. Karena itu, perubahan kecil pun terasa di pengeluaran rumah tangga.
Daging, Gula, dan Minyak Goreng: Angka Bahan Pokok Terbaru di Pedagang Eceran
Untuk protein hewani, PIHPS mencatat daging ayam ras Rp 37.350 per kilogram. Lalu, daging sapi kualitas I Rp 131.250 per kilogram. Sementara itu, daging sapi kualitas II Rp 111.250 per kilogram.
Komoditas gula juga tercatat bergerak di rentang berbeda. Gula pasir kualitas premium berada di Rp 19.150 per kilogram. Kemudian, gula pasir lokal tercatat Rp 18.000 per kilogram.
Minyak goreng menjadi perhatian lain jelang libur panjang. Minyak goreng curah tercatat Rp 19.400 per liter. Untuk kemasan bermerek I, angkanya Rp 24.650 per liter. Sementara itu, kemasan bermerek II berada di Rp 23.900 per liter.
Perbedaan harga minyak goreng biasanya dipengaruhi merek dan saluran distribusi. Selain itu, biaya logistik ikut membentuk harga eceran. Karena faktor itu, konsumen sering melihat variasi antarwilayah.
Bapanas: Bahan Pokok Cabai Masih Tinggi, Pasokan Diminta Mengalir dari Sentra
Badan Pangan Nasional menyoroti kenaikan harga cabai menjelang Natal dan Tahun Baru. Menurut pemantauan Panel Harga Pangan, cabai rawit merah masih tinggi di beberapa daerah. Di DKI Jakarta, angkanya disebut mencapai Rp 94.667 per kilogram.
Angka itu berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP). Rentang HAP cabai rawit merah berada di Rp 40.000–57.000 per kilogram. Secara nasional, rata-rata cabai rawit merah disebut Rp 73.119 per kilogram.
Bapanas menilai musim hujan ikut menekan proses panen. Pemetikan cabai bisa terganggu saat curah hujan tinggi. Akibatnya, pasokan berkurang dan harga terkoreksi.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, menyampaikan penjelasan pada 16 Desember 2025. Ia menilai cuaca membuat panen tidak optimal. Namun, ia memperkirakan harga dapat turun saat kondisi kembali normal.
Distribusi Jadi Kunci: Kerja Sama Antar Daerah Dipacu
Bapanas mendorong pasokan cabai dari sentra produksi mengalir ke wilayah defisit. Skema kerja sama antar daerah disebut sudah berjalan beberapa tahun. Melalui mekanisme itu, daerah surplus bisa memasok daerah yang kekurangan.
Beberapa daerah disebut berpotensi menjadi pemasok. Aceh Tengah dinilai mampu menambah pasokan untuk pasar di Jakarta. Sementara itu, Jeneponto, Enrekang, dan Wajo di Sulawesi Selatan juga disebut punya potensi suplai.
Namun, tantangan utama muncul pada distribusi. Faktor cuaca dapat mengganggu pengiriman. Selain itu, hambatan logistik bisa memperlama waktu tempuh. Pada akhirnya, pasokan yang terlambat mendorong harga naik di pasar.
Karena itu, Bapanas menekankan perlunya kesepakatan bisnis antardaerah. Skema ini bisa memberi kepastian volume dan jadwal pengiriman. Dengan cara itu, stabilisasi harga lebih mudah dilakukan.
Peran Pemda: Bantuan Ongkos Angkut dan Pemantauan Harian
Pemerintah daerah juga diminta ikut menahan lonjakan harga. Salah satu opsi ialah membantu biaya distribusi dan transportasi. Langkah itu bisa menekan biaya logistik yang menempel pada harga akhir.
Maino menyebut pemantauan dilakukan setiap hari. Data harian dikumpulkan secara daring melalui sistem pemantauan kebutuhan pokok. Melalui pemantauan itu, pemerintah bisa merespons lebih cepat saat harga melonjak.
Pada saat yang sama, konsumen diimbau memantau harga resmi sebagai pembanding. Informasi harga membantu belanja lebih terukur. Selain itu, konsumen bisa memilih substitusi sementara saat harga ekstrem.
Penutup: Cabai Tetap Paling Rentan, Stabilitas Bergantung Cuaca dan Logistik
Data PIHPS menunjukkan cabai rawit merah berada di Rp 52.850 per kilogram pada 24 Desember 2025. Telur ayam ras tercatat Rp 33.800 per kilogram. Sejumlah komoditas lain juga bergerak, termasuk bawang, beras, daging, gula, dan minyak goreng.
Ke depan, stabilitas harga cabai sangat bergantung pada cuaca dan kelancaran distribusi. Karena itu, penguatan pasokan dari sentra produksi menjadi langkah penting. Jika suplai lancar, tekanan harga jelang Nataru bisa mereda.
Baca Juga: OIC Usulkan Beberapa Mekanisme untuk Mendorong Pertumbuhan Asuransi Thailand di 2026











