ajibata, Jakarta – Cecilia Cheung Dalam praktik mengasuh anak, setiap orangtua memiliki pendekatan yang berbeda. Salah satu gaya asuh yang kerap diperbincangkan adalah pola asuh keras yang dikenal dengan istilah parenting VOC.
Istilah ini merujuk pada Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kongsi dagang era penjajahan yang identik dengan disiplin dan aturan ketat. Parenting VOC kemudian digunakan untuk menggambarkan pola asuh yang menekankan ketaatan, kontrol, dan hukuman.
Gaya asuh ini menuai pro dan kontra. Sebagian orangtua percaya kedisiplinan keras dapat membentuk karakter kuat. Namun, tidak sedikit yang menilai pendekatan tersebut berisiko menekan emosi dan kepercayaan diri anak.
Cecilia Cheung Tawarkan Pendekatan Parenting yang Berbeda
Berbeda dari pola asuh keras, aktris asal Tiongkok Cecilia Cheung justru memperlihatkan pendekatan parenting yang lembut dan reflektif. Dalam sebuah acara ragam Tiongkok, ia membagikan pengalamannya sebagai ibu.
Mengutip laporan Kbizoom pada 14 Desember 2025, Cecilia mengungkapkan bahwa dirinya jarang membentak anak-anaknya. Ia memilih pendekatan yang menghargai dan membimbing daripada menghukum.
Pendekatan ini menarik perhatian publik karena bertolak belakang dengan stereotip orangtua yang tegas dan keras. Cecilia percaya bahwa rasa hormat dan komunikasi lebih efektif dalam mendidik anak.
Mengajarkan Tanggung Jawab Lewat Konsekuensi
Cecilia Cheung menjelaskan bahwa dirinya tidak menghindari kesalahan anak. Ketika anak-anaknya melakukan kekeliruan, ia tidak langsung memarahi, melainkan mengajak mereka memahami konsekuensi dari keputusan yang diambil.
Ia menekankan pentingnya tanggung jawab pribadi. Anak-anak diajak menyadari bahwa setiap pilihan memiliki dampak yang harus dihadapi dengan sikap dewasa.
Menurut Cecilia, kegagalan merupakan bagian penting dari proses belajar. Ia percaya anak tidak akan berkembang jika selalu dilindungi dari kesalahan dan tantangan hidup.
Tidak Takut Anak Mengalami Kegagalan
Cecilia mengaku justru merasa khawatir jika kehidupan anak-anaknya terlalu mudah. Baginya, keberhasilan yang datang tanpa usaha tidak memberikan pelajaran berarti.
Ia mengatakan lebih lega ketika anak-anaknya pulang dengan cerita kegagalan. Dari situ, ia melihat proses belajar dan pembentukan mental yang sesungguhnya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Cecilia memandang kegagalan sebagai sarana pembelajaran, bukan sesuatu yang harus dihindari atau ditutupi.
Menikmati Setiap Proses Tumbuh Kembang Anak
Dalam perjalanannya sebagai ibu selama 18 tahun, Cecilia merasa waktu berlalu sangat cepat. Ia menyebut masa-masa membesarkan anak dipenuhi sukacita dan pelajaran hidup.
Melihat anak-anaknya terus belajar dan bertumbuh membuatnya merasa ikut berkembang. Ia menyadari bahwa menjadi orangtua juga berarti terus belajar dan menyesuaikan diri.
Cecilia menegaskan bahwa ia menghargai setiap fase tumbuh kembang anak. Baginya, kehadiran penuh dalam proses tersebut jauh lebih penting daripada hasil instan.
Tantangan Terbesar Orangtua Ada pada Koneksi Emosional
Menurut Cecilia, tantangan terbesar dalam mengasuh anak bukanlah soal materi. Ia menilai tantangan utama adalah membangun koneksi batin yang kuat dengan anak.
Memahami perasaan, pikiran, dan kebutuhan emosional anak membutuhkan kesabaran dan empati. Hal ini tidak selalu bisa dicapai melalui aturan atau hukuman.
Ia percaya bahwa orangtua perlu tumbuh bersama anak. Hubungan yang sehat dibangun dari keterbukaan dan saling memahami, bukan dari rasa takut.
Kepribadian Anak Mencerminkan Pola Asuh
Dengan pendekatan parenting yang lebih tenang, anak-anak Cecilia menunjukkan perkembangan yang positif. Kedua putranya, Lucas yang berusia 18 tahun dan Quintus yang berusia 15 tahun, dikenal berprestasi di sekolah.
Selain prestasi akademik, mereka juga digambarkan memiliki kepribadian yang perhatian dan penyayang. Hal ini dinilai mencerminkan lingkungan emosional yang sehat di rumah.
Cecilia juga mengungkapkan bahwa peran mulai berbalik. Kini, anak-anaknya sering mengingatkannya untuk hidup lebih sehat dan seimbang.
Belajar Melepas dan Membiarkan Anak Mandiri
Sebagai ibu, Cecilia menyadari pentingnya belajar melepas. Ia mengakui bahwa membiarkan anak membuat keputusan sendiri bukanlah hal mudah.
Namun, ia percaya kemandirian tidak akan tumbuh jika anak selalu dikontrol. Orangtua perlu memberi ruang agar anak belajar menentukan jalan hidupnya.
Menurutnya, peran orangtua adalah mendampingi, bukan mengendalikan sepenuhnya. Kepercayaan menjadi fondasi utama dalam hubungan orangtua dan anak.
Cecilia Cheung dan Perjalanan Hidupnya
Cecilia Cheung lahir pada 1980 dan dikenal sebagai ikon kecantikan Hong Kong. Ia populer lewat film-film seperti King of Comedy, Fly Me to Polaris, The Lion Roars, dan Lost in Time.
Di era 1990-an hingga awal 2000-an, namanya menjadi salah satu yang paling berpengaruh di industri hiburan Asia. Ia sempat menikah dengan aktor Nicholas Tse sebelum bercerai pada 2012.
Pada 2018, Cecilia dikabarkan melahirkan anak ketiganya. Hingga kini, ia memilih menjaga privasi kehidupan pribadinya sambil tetap aktif berbagi pandangan tentang kehidupan dan parenting.
baca juga di sini : Dapur Umum Polres Simalungun Bekerja Dua Hari Non-Stop, Siapkan 1.620 Paket Makanan untuk Korban Siklon Tropis











