ajibata, Jakarta – Suplemen kini semakin populer sebagai penunjang kesehatan kulit, rambut, dan daya tahan tubuh. Namun, di tengah maraknya produk vitamin dan mineral yang dijual bebas, masyarakat diingatkan agar tidak asal mengonsumsi. Founder Clara Skin Clinic Raden Saleh, dr. Dani Djuanda, menekankan bahwa suplemen bukanlah kebutuhan utama jika pola makan sudah terpenuhi dengan baik.
Menurut dr. Dani, pemahaman keliru tentang suplemen sering membuat orang merasa wajib mengonsumsinya setiap hari. Padahal, fungsi suplemen sejatinya hanya sebagai pelengkap, bukan pengganti asupan gizi dari makanan sehari-hari.
Baca Juga: Kemenkes Jelaskan Kasus 2 WNI Terkena Kusta di Rumania
Suplemen Hanya Tambahan, Bukan Kebutuhan Utama
Dr. Dani menjelaskan bahwa dasar kesehatan tetap berasal dari pola makan seimbang. Jika seseorang sudah mengonsumsi makanan bergizi lengkap, suplemen sebenarnya tidak diperlukan.
“Namanya saja suplemen, artinya tambahan. Kalau makan dan minum kita sudah sehat, cukup sayur dan buah, istilahnya empat sehat lima sempurna, sebenarnya tidak perlu suplemen,” ujarnya kepada Health Liputan6.com.
Oleh karena itu, kebiasaan langsung membeli vitamin hanya karena tren atau rekomendasi di media sosial sebaiknya dihindari. Tubuh manusia dirancang untuk mendapatkan sebagian besar vitamin dan mineral dari makanan alami.
Kapan Suplemen Memang Diperlukan?
Meski demikian, dr. Dani tidak menampik bahwa ada kondisi tertentu yang memang membutuhkan suplemen. Misalnya, saat seseorang sedang sakit, dalam masa pemulihan, atau mengalami kekurangan zat gizi tertentu.
Ia mencontohkan situasi saat pandemi COVID-19. Pada masa itu, vitamin D banyak dianjurkan karena perannya dalam mendukung sistem imun. Namun, ia menegaskan bahwa konsumsi ideal seharusnya didasarkan pada pemeriksaan medis.
“Yang betul sebenarnya kita cek dulu di laboratorium, berapa kadar vitamin D kita. Kalau kadarnya sudah di atas 30, itu tidak perlu minum vitamin D,” jelasnya.
Sayangnya, biaya pemeriksaan laboratorium yang relatif mahal sering membuat orang mengonsumsi tanpa mengetahui kebutuhan tubuhnya. Akibatnya, vitamin yang diminum bisa saja tidak memberikan manfaat berarti.
Vitamin D dan Perannya pada Penyakit Tertentu
Dalam praktik klinis sehari-hari, dr. Dani kerap meresepkan vitamin D pada pasien dengan penyakit autoimun dan alergi. Dari hasil pemeriksaan, banyak pasien menunjukkan kadar vitamin D yang rendah.
“Pada pasien autoimun dan alergi, vitamin D-nya sering menurun. Maka kita berikan vitamin D, misalnya sampai 5.000 IU sesekali, untuk meningkatkan imunitas dan membantu perbaikan kondisi autoimun dan alerginya,” paparnya.
Namun, ia kembali menekankan bahwa pemberian tersebut tetap didasarkan pada evaluasi medis, bukan sekadar asumsi atau ikut-ikutan.
Waspada Suplemen Kombinasi untuk Rambut dan Kulit
Tren suplemen kecantikan seperti hair, skin, and nail supplement juga menjadi perhatian. Produk-produk ini sering diklaim mampu menjaga kesehatan rambut, kulit, dan kuku sekaligus. Meski terdengar praktis, dr. Dani mengingatkan agar masyarakat lebih kritis.
Menurutnya, suplemen kombinasi yang mengandung banyak vitamin dengan dosis kecil sering kali tidak efektif. Kandungan vitamin yang terlalu sedikit justru tidak mencapai dosis minimal yang dibutuhkan tubuh.
“Vitamin tunggal itu sebenarnya lebih bagus dibandingkan vitamin yang isinya campur-campur dari A sampai Z, tapi dosisnya kecil-kecil,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak orang tetap sehat tanpa mengonsumsi kombinasi tersebut, asalkan kebutuhan gizinya terpenuhi dari makanan.
Vitamin Tunggal Dinilai Lebih Efektif
Dr. Dani menjelaskan bahwa suplemen dengan kandungan tunggal, seperti vitamin C, D, atau E, memang cenderung lebih mahal dan kapsulnya berukuran lebih besar. Namun, manfaatnya lebih jelas karena dosisnya sesuai dengan kebutuhan tubuh.
“Vitamin C sendiri, vitamin D sendiri, vitamin E sendiri memang lebih mahal dan minumnya lebih susah, tapi lebih efektif,” katanya.
Dengan dosis yang tepat, tubuh dapat menyerap vitamin secara optimal dan memberikan efek yang diharapkan, dibandingkan suplemen campuran dengan kandungan minim.
Selektif dan Cerdas dalam Memilih Suplemen
Di akhir penjelasannya, dr. Dani menegaskan bahwa kunci utama konsumsi suplemen adalah selektif dan cerdas. Masyarakat diimbau tidak mudah tergoda iklan atau klaim berlebihan yang banyak beredar di media sosial maupun marketplace.
“Poinnya, kita harus selektif dan pintar-pintar memilih suplemen yang ditawarkan. Jangan asal ikut tren,” pungkasnya.
Dengan memahami fungsi yang sebenarnya, masyarakat diharapkan bisa lebih bijak menjaga kesehatan. Pola makan seimbang tetap menjadi prioritas, sementara suplemen digunakan hanya saat benar-benar dibutuhkan dan sesuai rekomendasi medis.











