ajibata, Jakarta – Mengganti popok bayi sering kali dianggap rutinitas sepele dalam pengasuhan sehari-hari. Namun, di balik aktivitas sederhana tersebut, terdapat aturan medis yang penting untuk diperhatikan demi menjaga kesehatan bayi. Dokter Anak dari Rumah Sakit PELNI, dr. Damar Prasetya Ajie Putra, M.Sc., Sp.A, menegaskan bahwa durasi ideal mengganti popok anak adalah setiap tiga sampai empat jam.
Penjelasan ini, menurut dr. Damar, sejalan dengan pedoman dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), American Academy of Pediatrics, serta panduan dokter anak di Eropa. Dengan kata lain, aturan ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan rekomendasi berbasis medis yang bertujuan melindungi kulit dan kesehatan saluran kemih bayi.
“Jadi, setidaknya ganti popok itu adalah setiap tiga sampai empat jam, atau lebih cepat. Apabila moms and dads melihat popok sudah penuh. Atau jika tipe kulitnya sangat sensitif dan mudah ruam, bisa saja perlu diganti setiap dua jam,” jelas dr. Damar dalam acara Launching Baby Happy Soft & Comfort pada Minggu, 21 Desember 2025.
Baca Juga: [Kolom Pakar] Tjandra Yoga Aditama: Penanganan TBC di Banjir
Durasi Ganti Popok Bisa Berbeda pada Setiap Anak
Meski ada panduan umum, dr. Damar menekankan bahwa durasi mengganti popok tidak bisa disamaratakan. Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda, tergantung usia, kondisi kulit, dan frekuensi buang air.
Sebagai contoh, bayi baru lahir umumnya lebih sering buang air kecil dan besar. Oleh sebab itu, frekuensi mengganti popok pada usia ini cenderung lebih sering. Sebaliknya, seiring bertambahnya usia dan sistem pencernaan yang mulai stabil, durasi penggantian popok bisa menjadi lebih panjang.
“Lebih cepat boleh dilakukan apabila memang anak kita sudah ruam atau popoknya sudah penuh duluan. Jadi, nggak usah menunggu tiga sampai empat jam,” ujarnya menegaskan.
Dengan demikian, orang tua dianjurkan untuk tidak terpaku pada jam semata. Kondisi popok dan kulit bayi harus menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan waktu penggantian.
Risiko Kesehatan Jika Popok Terlalu Lama Digunakan
Selanjutnya, dr. Damar mengingatkan bahwa terlalu jarang mengganti popok dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan. Salah satu yang paling sering terjadi adalah infeksi saluran kemih (ISK). Kondisi ini dapat muncul akibat area bokong dan organ intim bayi yang terlalu lama terpapar urine atau feses.
Infeksi saluran kemih pada anak bukan masalah ringan. Gejalanya bisa berupa demam tinggi, bayi menjadi rewel, hingga muncul ruam di area popok. Oleh karena itu, kebersihan dan frekuensi penggantian popok menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan.
“Infeksi saluran kemih itu multifaktor. Salah satunya karena popok yang jarang diganti atau cara membersihkan bokong bayi yang tidak tepat,” jelas dr. Damar.
Selain memilih produk yang sesuai, ia menekankan bahwa cara perawatan setelah mengganti popok sama pentingnya. Membersihkan area intim dengan teknik yang benar menjadi langkah krusial untuk mencegah kuman masuk ke saluran kemih.
Kesalahan Umum Orang Tua Saat Membersihkan Bokong Bayi
Pada kesempatan yang sama, model dan figur publik Patricia Gouw turut berbagi pengalaman pribadinya sebagai ibu baru. Ia mengakui bahwa anaknya sempat mengalami infeksi saluran kemih akibat kesalahan teknik membersihkan bokong setelah mengganti popok.
“Waktu itu aku first time mom, jadi belum paham. Aku bersihinnya asal dari bawah ke atas. Anak aku jadi kena infeksi. Awalnya aku malah menyalahkan produknya, ternyata dari cara aku,” ungkap Patricia.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kurangnya informasi dapat berdampak langsung pada kesehatan anak. Setelah berkonsultasi dengan dokter, Patricia pun memahami teknik yang benar.
Menurut arahan dokter, membersihkan bokong bayi harus dilakukan dari arah depan ke belakang. Teknik ini bertujuan mencegah perpindahan bakteri dari area anus ke saluran kemih, terutama pada bayi perempuan yang lebih rentan terhadap ISK.
Peran Orang Tua dalam Mencegah ISK Sejak Dini
Oleh karena itu, dr. Damar kembali menekankan bahwa peran orang tua sangat besar dalam pencegahan masalah kesehatan akibat popok. Mengganti secara rutin, memperhatikan kondisi kulit bayi, serta membersihkan area intim dengan benar merupakan langkah sederhana namun berdampak besar.
Selain itu, orang tua juga disarankan untuk memperhatikan tanda-tanda awal iritasi atau ruam. Jika muncul kemerahan, segera ganti popok dan biarkan kulit bayi “bernapas” sejenak sebelum memakai popok baru.
Pada akhirnya, mengganti popok bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga soal kesehatan jangka panjang anak. Dengan mengikuti panduan medis dan menerapkan kebiasaan perawatan yang benar, risiko infeksi maupun gangguan kulit dapat diminimalkan. Langkah kecil ini, bila dilakukan konsisten, akan membantu anak tumbuh lebih sehat dan nyaman setiap hari.
Baca Juga: Ombudsman Dorong Ruang Aman Dan Layanan Kesehatan Jiwa Bagi Murid SMP











