ajibata, Jakarta – Pasien Kanker Siapa bilang dengan diet rendah lemak tidak bisa menikmati kelezatan masakan Nusantara seperti ayam pop atau sate maranggi? Di tangan Chef Esach, finalis MasterChef Indonesia Season 2, anggapan itu terpatahkan. Menu khas Indonesia tetap bisa dinikmati pasien rumah sakit tanpa mengorbankan aspek kesehatan.
Chef Esach, yang juga merupakan penyintas kanker kelenjar getah bening stadium lanjut, menghadirkan konsep masakan rumah sakit yang kaya rasa namun tetap aman. Lewat kolaborasi bertajuk “Sepiring Harapan” bersama Mandaya Royal Hospital Puri, ia membuktikan bahwa makanan sehat tidak harus hambar.
Menurut Esach, pengalaman pribadi sebagai pasien membuatnya paham betul bagaimana rasanya kehilangan selera makan. Oleh karena itu, ia ingin menghadirkan hidangan yang tetap menggugah selera, sekaligus sesuai dengan rekomendasi medis.
“Biasanya kalau sakit, makanan terasa hambar. Padahal, orang yang sedang berjuang justru butuh semangat, salah satunya dari makanan. Maka saya mencoba menyajikan masakan yang kaya rasa, tetapi tetap menggunakan bahan alami dan sesuai arahan dokter gizi,” ungkap Esach saat peluncuran program tersebut di Kota Tangerang, Minggu (14/12/2025).
Mengolah Sate Tanpa Dibakar
Sebagai contoh, Chef Esach menghadirkan menu Sate Rempah Saikoro Salsa with Cajun Butter Rice. Sekilas, menu ini terdengar seperti pantangan bagi pasien tertentu, khususnya penderita Pasien Kanker, karena sate identik dengan proses pembakaran.
Namun demikian, Esach menyiasati teknik memasaknya. Ia tetap mempertahankan cita rasa khas sate tanpa menggunakan arang atau api langsung. Proses pemasakan dilakukan dengan teknik pan grilling agar hasil akhirnya menyerupai sate bakar, tetapi lebih aman.
“Dasarnya memang sate Maranggi. Namun saya kombinasikan ulang dengan salsa ala Meksiko. Tomat saya ganti nanas supaya lebih segar dan ramah lambung. Jadi rasanya tetap kuat, tetapi tidak berisiko,” jelasnya.
Sementara itu, nasi pendampingnya juga tidak dibuat polos. Esach mengolahnya dengan butter rendah lemak, sedikit garam, dan telur orak-arik agar kandungan proteinnya tetap tinggi. Dengan cara ini, pasien tetap mendapatkan asupan nutrisi tanpa kehilangan rasa.
Ayam Pop Versi Ramah Pasien
Selain sate, menu Nasi Ayam Pop Crispy Kale juga menjadi sorotan. Ayam pop yang biasanya disajikan dengan sambal pedas khas Padang, diolah ulang agar sesuai untuk pasien.
Dalam versi ini, ayam dimasak dengan teknik rebus tanpa minyak. Sementara itu, sambal pedas diganti dengan campuran paprika dan tomat, sehingga tetap menghasilkan warna merah cerah tanpa rasa menyengat.
“Awalnya saya ingin menambahkan kerupuk sebagai pelengkap. Tapi ahli gizi melarang. Akhirnya saya ganti dengan daun kale yang diolah menggunakan airfryer hingga garing. Tetap ada sensasi kriuk, tapi lebih aman,” tutur Esach.
Berangkat dari Pengalaman Pribadi
Lebih jauh, motivasi Esach tidak terlepas dari perjuangannya sendiri melawan kanker. Selama bertahun-tahun menjalani pengobatan, ia merasakan betul sulitnya makan makanan rumah sakit yang cenderung monoton.
“Saya hanya ingin menyajikan comfort food. Makanan sehari-hari yang familiar, tetapi tetap bisa dinikmati pasien. Kalau nafsu makan meningkat, proses pemulihan juga lebih baik,” katanya.
Baginya, makanan bukan sekadar asupan nutrisi, tetapi juga sumber harapan dan semangat hidup.
Proses Panjang dan Perdebatan dengan Ahli Gizi
Meski terlihat sederhana, proses menghadirkan menu ini tidaklah mudah. Chef Esach mengaku harus melalui diskusi panjang dengan tim ahli gizi Mandaya Royal Hospital.
Ia melakukan riset sendiri, menyusun resep, lalu melakukan food test berkali-kali. Bahkan, beberapa kali terjadi perdebatan karena perbedaan sudut pandang antara cita rasa dan batasan medis.
“Saya akui, beberapa kali saya bandel. Sempat pakai cabai sedikit, tapi ketahuan. Akhirnya harus diulang lagi,” ujarnya sambil tertawa.
Namun, dari proses tersebut, Esach justru belajar lebih banyak tentang keseimbangan antara rasa dan kesehatan. Semua bahan yang digunakan dipastikan real food, tanpa pengawet, tanpa sosis, dan tanpa bakso olahan.
Sebagai pengganti kerupuk, daun kale yang dicincang dan dikeringkan menjadi solusi kreatif. Rasanya gurih dan mengingatkan pada jukut goreng khas Sunda.
Tiga Menu Penuh Harapan
Dalam kolaborasi ini, Chef Esach menghadirkan tiga menu utama, yaitu Nasi Goreng Siram Kepiting, Nasi Ayam Pop Crispy Kale, dan Sate Rempah Saikoro Salsa with Cajun Butter Rice. Seluruh menu dirancang agar bisa dikonsumsi pasien rumah sakit sesuai kebutuhan diet masing-masing.
Presiden Direktur Mandaya Royal Hospital Puri, dr. Ben Widaja, menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, kehadiran Chef Esach memberikan inspirasi besar bagi para Pasien Kanker.
“Beliau adalah contoh nyata bahwa semangat juang bisa membawa kesembuhan. Lewat menu ini, kami berharap pasien tidak hanya mendapatkan nutrisi, tetapi juga motivasi untuk bangkit,” ujarnya.
Pada akhirnya, Sepiring Harapan bukan sekadar program kuliner. Ia menjadi simbol bahwa di tengah keterbatasan, masih ada ruang untuk rasa, harapan, dan semangat hidup.
baca juga di sini : LPPM UMSU Salurkan Bantuan Kesehatan dan Trauma Healing bagi Korban Bencana di Tapteng











