ajibata, Jakarta — Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam bidang kesehatan, salah satunya penyakit kanker. Hingga kini, kanker masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat lintas usia lansia atau Remaja.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan) 2022, kanker menempati peringkat ketiga sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Tercatat, terdapat lebih dari 408 ribu kasus baru kanker setiap tahun, dengan angka kematian mendekati 242 ribu jiwa.
Di antara berbagai jenis kanker, kanker payudara menjadi yang paling banyak ditemukan. Selain itu, kanker ini juga menjadi penyumbang angka kematian tertinggi akibat kanker di Tanah Air.
Yang lebih memprihatinkan, kanker payudara kini tidak hanya menyerang perempuan usia dewasa. Dalam beberapa kasus, penyakit ini mulai ditemukan pada kelompok usia remaja.
Dokter spesialis bedah onkologi Sonar Soni Panigoro, Sp.B(K) Onk, M.Epid, MARS, mengungkapkan fakta tersebut berdasarkan pengalamannya menangani pasien kanker.
“Kalau remaja yang saya temukan, usia termuda yang pernah saya tangani adalah 17 tahun,” ujar Sonar dalam acara Pendekatan Terpadu dalam Onkologi: Adaptasi Teknologi, Kolaborasi Multidisiplin, dan Protokol Rujukan di Eka Tjipto Widjaja Cancer Center, Eka Hospital Group, Rabu (17/12/2025).
Baca Juga: Perlukah Smartwatch untuk Menunjang Kesehatan Tubuh?
Faktor Genetik dan Hormonal Jadi Pemicu
Menurut Sonar, munculnya kanker payudara pada usia yang sangat muda umumnya berkaitan dengan aktivitas hormonal dan faktor keturunan. Secara statistik, kanker payudara memang lebih sering ditemukan pada perempuan usia 40 tahun ke atas.
Oleh karena itu, ketika penyakit ini muncul pada remaja, penyebabnya perlu dicermati lebih dalam.
“Biasanya kanker payudara banyak ditemukan pada usia 40-an. Jadi kalau usia 17 sudah terkena, besar kemungkinan ada faktor genetik atau keturunan dari keluarga,” jelas Sonar.
Dengan kata lain, riwayat kanker dalam keluarga menjadi faktor risiko penting. Remaja dengan orang tua atau kerabat dekat yang pernah mengalami kanker payudara perlu lebih waspada.
Namun demikian, faktor genetik bukan satu-satunya penyebab. Pola hidup, lingkungan, serta keseimbangan hormon juga berperan dalam meningkatkan risiko.
Kapan Remaja Perlu Mulai Periksa Payudara?
Di tengah meningkatnya kasus kanker payudara, kesadaran menjaga kesehatan payudara perlu ditanamkan sejak usia dini. Remaja dianjurkan mulai mengenal kondisi tubuhnya sendiri sejak memasuki masa pubertas.
Salah satu langkah sederhana adalah melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri). Pemeriksaan ini sebaiknya mulai dilakukan sejak remaja mengalami akil balig.
Melalui SADARI, remaja dapat memahami bentuk dan kondisi normal payudaranya. Dengan begitu, perubahan yang tidak biasa dapat lebih cepat disadari.
Perubahan tersebut antara lain munculnya benjolan, rasa nyeri yang tidak wajar, perubahan bentuk, atau perubahan pada kulit payudara.
“Setelah akil balig, cukup SADARI saja. Itu sudah sangat membantu untuk mengenali kondisi payudara,” ujar Sonar.
Seiring bertambahnya usia, metode pemeriksaan juga perlu ditingkatkan. Pada usia 20 tahun, pemeriksaan payudara dapat dilengkapi dengan USG untuk hasil yang lebih akurat.
Sementara itu, memasuki usia 40 tahun ke atas, pemeriksaan rutin menggunakan mamografi menjadi sangat penting sebagai langkah deteksi dini kanker payudara.
“Usia 20 tahun boleh ditambah USG, dan usia 40 tahun ditambah mamografi,” tambahnya.
Deteksi dini terbukti memberikan peluang penanganan yang lebih baik. Selain itu, terapi juga menjadi lebih efektif jika kanker ditemukan pada stadium awal.
Pola Hidup Sehat Jadi Kunci Pencegahan
Meski kanker payudara lebih sering terjadi pada usia dewasa, langkah pencegahan tetap perlu dilakukan sejak remaja. Salah satu upaya utama adalah menerapkan pola hidup sehat secara konsisten.
Sonar menekankan pentingnya menjaga pola makan sejak dini. Remaja dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan memperbanyak sayur dan buah.
Sebaliknya, konsumsi makanan tinggi gula, karbohidrat sederhana, dan lemak berlebih perlu dibatasi. Pola makan tidak seimbang dapat memengaruhi berat badan dan keseimbangan hormon.
Selain itu, kebiasaan merokok harus dihindari. Zat berbahaya dalam rokok diketahui meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara.
Aktivitas fisik juga memegang peranan penting. Remaja disarankan berolahraga secara rutin, minimal 30 menit per hari, untuk menjaga kebugaran dan daya tahan tubuh.
“Pola hidup sehat, pola makan yang sehat, hindari merokok, dan lakukan olahraga secara rutin,” kata Sonar.
Dengan demikian, risiko penyakit kronis dapat ditekan sejak usia muda.
Pentingnya Asupan Nutrisi Sejak Remaja
Selain pola hidup aktif, asupan nutrisi juga berperan besar dalam menurunkan risiko kanker. Remaja perlu lebih bijak dalam memilih makanan sehari-hari.
Konsumsi karbohidrat yang berlebihan, terutama karbohidrat sederhana, sebaiknya dibatasi. Begitu pula dengan makanan tinggi lemak jenuh yang dikonsumsi secara terus-menerus.
Sebaliknya, asupan serat perlu ditingkatkan. Serat dapat diperoleh dari sayur-sayuran, buah-buahan, serta bahan pangan alami lainnya.
Serat membantu menjaga keseimbangan metabolisme tubuh dan mendukung kesehatan sistem pencernaan. Dalam jangka panjang, pola makan sehat dapat menurunkan risiko berbagai penyakit.
“Asupan karbohidrat jangan berlebihan, lemak perlu dibatasi, dan serat harus diperbanyak,” ujar Sonar.
Pola makan sehat tidak harus rumit atau mahal. Yang terpenting adalah konsistensi dalam penerapannya.
Deteksi Dini untuk Masa Depan Lebih Sehat
Meningkatnya kasus kanker payudara pada usia muda menjadi pengingat penting bagi semua pihak. Kesadaran kesehatan perlu dibangun sejak dini, termasuk pada remaja.
Dengan mengenali tubuh sendiri, menjalani pola hidup sehat, serta melakukan pemeriksaan rutin sesuai usia, risiko kanker dapat ditekan.
Lebih jauh, deteksi dini memberikan harapan lebih besar bagi pasien untuk mendapatkan penanganan optimal. Oleh karena itu, edukasi kesehatan harus terus digalakkan.
Dengan langkah pencegahan yang tepat dan kesadaran kolektif, diharapkan angka kanker payudara di Indonesia dapat ditekan, dan generasi muda tumbuh lebih sehat di masa depan.
Baca Juga: Hadiri Hari Jadi Ke-2 RSUD Tigaraksa, Bupati Tangerang: Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat











