Presiden Barcelona Murka, Balik Serang Real Madrid

Presiden Barcelona Murka, Balik Serang Real Madrid
Presiden Barcelona Murka, Balik Serang Real Madrid

ajibata, Jakarta – Hubungan antara dua raksasa sepak bola Spanyol, Barcelona dan Real Madrid, kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir. Ketegangan kali ini tidak hanya terjadi di lapangan, melainkan juga merembet ke level tertinggi manajemen klub. Presiden Barcelona Joan Laporta dan Presiden Real Madrid Florentino Perez menjadi sorotan utama setelah saling terkait dalam perang pernyataan yang bernuansa keras.

Situasi memanas setelah Joan Laporta melontarkan kritik tajam yang dinilai menyindir langsung Real Madrid. Dalam pidatonya pada acara Natal Barcelona, Laporta menyinggung adanya kampanye negatif yang menurutnya terus diarahkan kepada klub Catalan tersebut. Ia secara khusus menyoroti pemberitaan dan konten yang ditayangkan oleh Real Madrid TV (RMTV) terkait kasus Negreira, yang sejak awal 2023 menjadi isu sensitif bagi Barcelona.

Laporta menilai, sorotan berlebihan terhadap kasus tersebut bukan sekadar bentuk kritik biasa. Sebaliknya, ia menganggapnya sebagai upaya sistematis untuk menjatuhkan reputasi klub yang kini tengah berada dalam tren positif, baik secara finansial maupun olahraga.


Baca Juga: Rodrygo Rasakan Momen Spesial Jadi Kapten Real Madrid


Presiden Barcelona Laporta Sebut Ada Kampanye Tidak Etis

Dalam pernyataannya, Laporta menegaskan bahwa posisi dan kebangkitan Barcelona saat ini justru memicu rasa iri dari pihak tertentu. Menurutnya, kecemburuan tersebut kemudian diekspresikan melalui cara-cara yang tidak sehat dan bertentangan dengan nilai olahraga.

“Dimensi yang telah kami capai ini juga menimbulkan rasa iri, dan itu dikelola dengan sangat buruk oleh mereka yang menggunakan cara-cara kotor, merusak semua kode etik dan moral, bukan hanya dalam olahraga,” ujar Laporta, dikutip dari Sport.

Meskipun tidak menyebut nama secara eksplisit, pernyataan tersebut dinilai publik mengarah jelas kepada Real Madrid. Terlebih, Laporta juga menyinggung penggunaan media sebagai alat propaganda, sesuatu yang selama ini sering dikaitkan dengan RMTV.

Laporta menilai ada pihak yang menyalahgunakan kekuasaan dan pengaruh untuk membentuk opini publik. Ia juga menuding adanya penyebaran informasi menyesatkan yang dilakukan secara berulang dan terstruktur.

“Mereka adalah arsitek kampanye pencemaran nama baik yang permanen terhadap lambang dan esensi kami. Kami tidak akan membiarkan ini terjadi,” tegasnya.


Media Jadi Alat Rivalitas Baru

Lebih lanjut, Laporta mengkritik keras praktik penggunaan media klub sebagai sarana menyerang lawan. Menurutnya, hal tersebut mencederai sportivitas dan merusak nilai-nilai sepak bola yang seharusnya menjunjung fair play.

Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk arogansi kekuasaan. Selain itu, Laporta menilai publik sepak bola Spanyol kini dipaksa mengonsumsi narasi yang bias dan tidak berimbang.

Kasus Negreira memang menjadi titik sensitif bagi Barcelona. Namun, manajemen Blaugrana berulang kali menegaskan tidak pernah terbukti melakukan pengaturan pertandingan. Oleh sebab itu, Laporta merasa pemberitaan yang terus diulang justru bertujuan membentuk persepsi negatif, bukan mencari kebenaran.


Hubungan yang Berubah Drastis

Pernyataan keras Laporta ini menandai perubahan sikap yang cukup drastis. Sebelumnya, pada awal Desember, ia sempat berupaya meredakan ketegangan dengan Florentino Perez. Saat itu, Laporta bahkan menyebut hubungan institusional kedua klub masih dapat dijaga secara profesional.

Namun, serangkaian komentar dan konten yang dianggap menyerang Barcelona membuat Laporta mengubah pendekatannya. Ia menilai sikap diam justru akan dianggap sebagai kelemahan.

Secara historis, hubungan Barcelona dan Real Madrid memang selalu kompleks. Rivalitas El Clasico tidak hanya berkutat pada sepak bola, tetapi juga membawa muatan politik, budaya, dan simbolisme regional. Meski demikian, relasi institusional kedua klub sempat terbilang stabil dalam beberapa tahun terakhir.

Situasi berubah sejak mencuatnya kasus Negreira pada awal 2023. Sejak saat itu, hubungan kedua klub memburuk dan diwarnai perang opini di ruang publik.


Publik Menanti Respons Florentino Perez

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari Florentino Perez maupun manajemen Real Madrid terkait pernyataan Laporta. Namun, sejumlah pengamat menilai reaksi dari kubu Los Blancos hanya tinggal menunggu waktu.

Di sisi lain, media-media Madrid terus mengangkat isu Negreira dengan intensitas tinggi. Hal ini semakin memperkeruh suasana dan memperdalam jurang konflik antara kedua klub.

Bagi publik sepak bola Spanyol, situasi ini menjadi bukti bahwa rivalitas El Clasico telah berevolusi. Jika sebelumnya panas di lapangan, kini pertarungan juga terjadi di balik meja kekuasaan dan ruang media.


Rivalitas Presiden Barcelona Lavorta yang Tak Pernah Padam

Ketegangan antara Barcelona dan Real Madrid tampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat. Selama isu Negreira masih bergulir dan kedua klub terus saling sindir, hubungan keduanya diprediksi tetap berada dalam situasi panas.

Pernyataan Laporta menunjukkan bahwa Barcelona tidak lagi memilih jalur diam. Sebaliknya, klub Catalan itu siap melawan narasi yang dianggap merugikan citra mereka.

Kini, sorotan tertuju pada langkah selanjutnya dari Real Madrid. Apakah Florentino Perez akan membalas secara terbuka, atau memilih pendekatan berbeda, masih menjadi tanda tanya besar.

Yang pasti, rivalitas klasik sepak bola Spanyol kembali menunjukkan wajah aslinya. El Clasico bukan hanya soal 90 menit di lapangan, melainkan juga pertarungan gengsi, pengaruh, dan kekuasaan di luar stadion.

Baca Juga: 8 Fakta Terbaru Klasemen Medali SEA Games 2025 19 Desember, Dominasi Thailand dan Posisi Indonesia

pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak