ajibata.id – 166 Ribu Kasus DBD Ditanggung BPJS, Anak Dominan Penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Data BPJS Kesehatan mencatat, sepanjang paruh pertama tahun 2025 terdapat 166.665 peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menjalani perawatan akibat DBD.
Lebih dari separuh kasus terjadi pada anak dan remaja di bawah usia 20 tahun, menunjukkan bahwa kelompok muda masih sangat rentan terinfeksi. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa dampak DBD tidak hanya menyerang kesehatan individu, tetapi juga mempengaruhi produktivitas dan ekonomi keluarga.
“Harusnya semua pihak bergerak. Lebih dari 1.400 orang meninggal akibat DBD, dan lebih dari separuhnya anak serta remaja. Ini akibat yang luar biasa,” ujar Ghufron.
BPJS Kesehatan menjamin seluruh peserta JKN yang terinfeksi DBD dapat mengakses layanan medis tanpa biaya tambahan. Peserta dapat memeriksakan diri di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk diagnosis awal dan pengobatan.
Jika kondisi pasien memerlukan perawatan lanjutan, dokter akan memberikan rujukan ke rumah sakit sesuai indikasi medis dan kondisi klinis pasien. Ghufron menepis anggapan bahwa pasien DBD tidak dapat dirujuk atau dibatasi waktu perawatannya oleh BPJS.
“Masih banyak yang keliru mengira DBD tidak bisa dirujuk. Padahal tetap dijamin penuh dalam Program JKN,” ujarnya menegaskan.
BACA JUGA :Di Sini
166 Ribu Kasus DBD Ditanggung BPJS, Anak Dominan Biaya Klaim DBD Tembus Triliunan Rupiah
Dalam beberapa tahun terakhir, biaya klaim perawatan pasien DBD terus meningkat tajam.
- Tahun 2021: Rp626 miliar
- Tahun 2022: Rp1,39 triliun
- Tahun 2023: Rp1,26 triliun
- Tahun 2024: melonjak hingga Rp2,9 triliun untuk lebih dari 1 juta kasus rawat inap.
Rata-rata biaya rawat jalan pasien DBD mencapai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, sementara rawat inap menelan sekitar Rp4,5 juta per pasien.
BPJS Kesehatan memastikan seluruh klaim dibayar tepat waktu.
“Kami membayar klaim maksimal dalam 14 hari. Tidak ada aturan pasien harus pulang dalam tiga hari, itu tidak benar,” tegas Ghufron.
Menghadapi ancaman DBD di musim hujan, BPJS Kesehatan menggandeng pemerintah, akademisi, dan sektor swasta, termasuk Takeda Pharmaceuticals. Melalui acara media briefing bertajuk “Urgensi dan Kepemimpinan Indonesia dalam Perjuangan Melawan Dengue”, para pemangku kepentingan menyerukan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk menekan angka kematian akibat penyakit ini.
Menurut Derek Wallace, President Global Vaccine Business Unit Takeda Pharmaceuticals, dunia mengalami peningkatan signifikan kasus dengue dalam lima tahun terakhir.
“Hingga akhir April 2024, tercatat lebih dari 7,6 juta kasus dengue di seluruh dunia dengan 3.000 kematian,” katanya.
Meski demikian, Indonesia berhasil menurunkan laju kasus berkat komitmen kuat pemerintah dan sinergi berbagai pihak. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat strategi pencegahan, kesiapsiagaan, dan perawatan pasien DBD menuju target Zero Dengue Deaths 2030.
Lonjakan kasus DBD dan besarnya biaya perawatan menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan harus diperkuat sejak dini. Edukasi masyarakat, pengendalian lingkungan, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar Indonesia dapat mencapai tujuan ambisius: mengakhiri kematian akibat dengue pada 2030.
BACA JUGA :Di Sini











