BREN dan BRMS Naik Kelas di MSCI, KLBF Turun Level

BREN dan BRMS Naik Kelas di MSCI, KLBF Turun Level
BREN dan BRMS Naik Kelas di MSCI, KLBF Turun Level

ajibata.id – BREN dan BRMS Naik Kelas di MSCI, KLBF Turun Level Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mengumumkan hasil evaluasi terhadap konstituen indeks global untuk periode November 2025. Hasilnya, dua emiten Indonesia, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), berhasil naik kelas ke MSCI Global Standard Index, sementara PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) justru turun ke kategori Small Cap.

Dalam laporan MSCI terbaru yang dirilis pada Kamis (6/11/2025), sejumlah saham emiten Indonesia mengalami pergeseran signifikan.
Untuk kategori MSCI Global Standard Index, BREN dan BRMS resmi masuk sebagai pendatang baru. Sebaliknya, dua saham besar yaitu Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan Kalbe Farma Tbk (KLBF) dikeluarkan dari daftar utama.

Pada kategori MSCI Global Small Cap Index, tujuh saham Indonesia ditambahkan, di antaranya Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), Energi Mega Persada Tbk (ENRG), Kalbe Farma Tbk (KLBF), MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), Rukun Raharja Tbk (RAJA), Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), dan Timah Tbk (TINS).
Sementara itu, tiga saham dikeluarkan dari indeks ini, yakni BRMS, Selamat Sempurna Tbk (SMSM), dan Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ).

Perubahan tersebut menjadikan BRMS sebagai satu-satunya saham Indonesia yang naik kelas dari Small Cap ke Standard, sedangkan KLBF harus turun kelas ke Small Cap.

BACA JUGA :di Sini


BREN dan BRMS Naik Kelas di MSCI, KLBF Turun Level Respons BRMS atas Kenaikan ke MSCI Global Standard

Menanggapi hasil rebalancing MSCI ini, Direktur Utama BRMS Agoes Projosasmito menyambut positif langkah tersebut. Ia menyebut, masuknya BRMS dalam indeks global menjadi bukti pengakuan pasar internasional atas likuiditas dan kinerja saham perseroan.

“Tentunya kalau kita bisa masuk ke makin banyak indeks makin bagus. Kita sekarang sudah ada di IDX 80, KOMPAS 100, FTSE Small Cap, dan MSCI Small Cap,” ujar Agoes saat Public Expose, Rabu (5/11/2025).

Agoes menambahkan, BRMS memiliki porsi kepemilikan publik sekitar 30 persen, yang mencerminkan tingginya likuiditas saham di pasar.

“Floating shares kita yang dimiliki publik independently sekitar 30%. Jadi cukup besar dan likuid,” lanjutnya.

Terkait peluang BRMS masuk ke kategori Big Cap MSCI, Agoes menyebut hal itu sebagai target ambisius yang tetap realistis. Meski demikian, ia menegaskan fokus utama perusahaan tetap pada pencapaian target operasional dan keuangan.

“Kalau masuk indeks, tentu harapannya dengan sendirinya. Tapi yang utama, kami fokus ke pengembangan aset dan menjaga keseimbangan investor lokal serta asing,” tuturnya.

Masuknya BRMS ke indeks global diharapkan dapat meningkatkan eksposur perusahaan di pasar internasional dan menarik minat investor institusional baru.
Sementara bagi KLBF, penurunan ke Small Cap menjadi sinyal untuk memperkuat strategi pertumbuhan dan likuiditas agar dapat kembali ke indeks utama pada siklus rebalancing berikutnya.

Evaluasi MSCI November 2025 mencerminkan dinamika kuat di pasar modal Indonesia, dengan munculnya emiten baru yang menunjukkan daya saing global. Langkah BRMS dan BREN menembus MSCI Global Standard menjadi sinyal positif bagi sektor energi dan sumber daya Indonesia di mata investor dunia.

BACA JUGA :di Sini

pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak