Jakarta (ajibata) – Malam di Jalan Mampang Prapatan Raya, Jakarta Selatan, terasa berbeda dari biasanya. Antrean kendaraan tampak mengular di sebuah SPBU milik PT Pertamina (Persero). Sepeda motor dan mobil berderet rapi menunggu giliran mengisi BBM jenis Pertamax. Lampu kendaraan memantul di aspal, menciptakan suasana khas kota yang tetap hidup meski malam semakin larut dan Harga BBM kian melambung.
Fenomena ini muncul di tengah kabar pembatalan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Alih-alih meredakan situasi, informasi tersebut justru memicu lonjakan antrean di sejumlah SPBU, terutama di kawasan Jakarta Selatan seperti TB Simatupang, Kapten Tendean, dan Mampang Prapatan.
baca juga: Fortuner Ugal-ugalan di Tol Andara Tabrak Agya Hingga Terguling
Pengemudi Ojol Rasakan Dampak Langsung Harga BBM
Di tengah antrean tersebut, seorang pengemudi ojek daring bernama Ilham terlihat menunggu dengan sabar. Ia bahkan sempat mengabadikan momen antrean panjang menggunakan ponselnya, seolah ingin merekam situasi yang jarang terjadi.
Ilham mengaku merasa lega dengan pembatalan kenaikan harga BBM. Sebagai pengemudi ojol, bahan bakar merupakan kebutuhan utama yang tidak bisa ditunda.
“Bagus sih kalau BBM batal dinaikkan. Saya sempat merasa tertekan kalau naiknya sampai Rp20 ribu,” ujarnya.
Dalam kesehariannya, Ilham memiliki strategi untuk mengontrol pengeluaran. Ia tidak pernah mengisi penuh tangki, melainkan hanya menambah dua hingga tiga bar setiap hari.
“Sehari-hari saya batasi Rp20 ribu saja,” katanya.
Pendapatan yang relatif tetap membuatnya harus berhitung cermat. Ia mengaku belum melihat adanya penyesuaian tarif dari platform ojek daring.
“Argonya masih sama saja,” tambahnya.
Pembatalan Kenaikan BBM Bawa Kelegaan Sementara
Meski lega, Ilham tetap menyadari bahwa kemungkinan kenaikan harga BBM di masa depan masih terbuka. Ia berharap jika kenaikan terjadi, angkanya tidak terlalu tinggi.
“Jangan terlalu over kenaikannya,” ujarnya singkat.
Baginya, lonjakan harga BBM akan langsung berdampak pada biaya operasional harian. Jika harga benar-benar naik signifikan, maka pengeluaran akan meningkat tanpa diimbangi kenaikan pendapatan.
Kondisi ini mencerminkan kerentanan pekerja sektor informal terhadap perubahan harga energi. Setiap kenaikan kecil sekalipun dapat berdampak besar pada keseimbangan keuangan mereka.
Perspektif Pegawai Swasta di Tengah Ketidakpastian Global
Tidak jauh dari Ilham, seorang pegawai swasta bernama Aulia juga merasakan dampak dari kebijakan tersebut. Ia menilai pembatalan kenaikan harga BBM sebagai langkah yang tepat di tengah kondisi global yang belum stabil.
“Tanggapan saya menyesuaikan ekonomi saja. Apalagi sekarang lagi krisis di Timur Tengah,” ujarnya.
Aulia menyadari bahwa faktor geopolitik global turut memengaruhi kebijakan energi dalam negeri. Gangguan pasokan energi akibat konflik dapat berdampak pada harga BBM di Indonesia.
Dalam aktivitas sehari-hari, ia menghabiskan sekitar satu liter bahan bakar per hari. Dalam kondisi macet, konsumsi bisa meningkat hingga tiga liter dalam dua hari.
“Pengeluaran sekitar Rp30 ribu per hari,” jelasnya.
Efek Berantai Kenaikan BBM pada Ekonomi
Bagi Aulia, harga BBM bukan sekadar angka di papan SPBU. Ia melihat adanya efek berantai yang dapat memengaruhi berbagai sektor, termasuk harga kebutuhan pokok.
“Kalau BBM naik, otomatis pangan juga naik,” katanya.
Pandangan ini sejalan dengan realitas ekonomi, di mana biaya distribusi barang sangat bergantung pada harga energi. Kenaikan BBM dapat meningkatkan biaya logistik, yang kemudian berdampak pada harga barang di pasar.
Oleh karena itu, Aulia berharap pemerintah mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat sebelum mengambil keputusan terkait harga BBM.
“Jangan dinaikkan sampai ekonomi normal,” ujarnya.
Antrean sebagai Refleksi Psikologis Masyarakat
Fenomena antrean panjang di SPBU tidak hanya mencerminkan kebutuhan akan BBM, tetapi juga kondisi psikologis masyarakat. Ketidakpastian informasi sering kali memicu perilaku antisipatif, seperti mengisi bahan bakar lebih cepat atau lebih banyak dari biasanya.
Dalam kasus ini, pembatalan kenaikan harga justru memunculkan reaksi yang tidak terduga. Masyarakat tetap memilih untuk mengisi BBM sebagai langkah berjaga-jaga terhadap kemungkinan perubahan kebijakan di masa depan.
Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas informasi menjadi faktor penting dalam menjaga ketenangan publik.
Peran BBM dalam Kehidupan Perkotaan
BBM memiliki peran vital dalam kehidupan masyarakat perkotaan seperti Jakarta. Mobilitas tinggi, kemacetan, dan kebutuhan transportasi harian membuat konsumsi bahan bakar menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari.
Bagi pekerja seperti Ilham dan Aulia, BBM bukan sekadar kebutuhan tambahan, tetapi merupakan elemen utama dalam menunjang produktivitas. Tanpa akses yang stabil terhadap bahan bakar, aktivitas ekonomi dapat terganggu.
Harapan terhadap Kebijakan Energi yang Stabil
Situasi ini menunjukkan pentingnya kebijakan energi yang stabil dan terukur. Masyarakat membutuhkan kepastian agar dapat merencanakan pengeluaran dengan lebih baik.
Kebijakan yang tiba-tiba berubah dapat memicu kepanikan atau perilaku konsumtif yang tidak perlu. Oleh karena itu, komunikasi yang jelas dan transparan dari pemerintah menjadi kunci dalam menjaga stabilitas.
Selain itu, perlindungan terhadap kelompok rentan seperti pekerja sektor informal juga perlu menjadi perhatian utama.
Penutup: Potret Kecil Kehidupan Kota
Seiring waktu, antrean di SPBU mulai bergerak. Ilham dan Aulia perlahan mendekati pompa pengisian. Mesin kendaraan kembali menyala, membawa mereka melanjutkan aktivitas masing-masing.
Di bawah cahaya lampu SPBU, malam itu menjadi gambaran nyata tentang kehidupan masyarakat kota. Ada rasa lega, ada kecemasan, dan ada harapan yang terus menyertai setiap keputusan kecil, termasuk saat mengisi bahan bakar.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kebijakan energi tidak hanya berdampak pada angka ekonomi, tetapi juga pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Setiap liter BBM memiliki arti penting bagi mereka yang menggantungkan hidup pada roda kendaraan.
baca juga: Ketua RT Pademangan Rela Tak Mudik Demi Jaga Rumah Warga











