Umum  

Coding Camp 2026 Latih Talenta Digital hingga 900 Jam

Coding Camp 2026 Latih Talenta Digital hingga 900 Jam
Coding Camp 2026 Latih Talenta Digital hingga 900 Jam

ajibata.id Coding Camp 2026 Latih Talenta Digital hingga 900 Jam Program Coding Camp powered by DBS Foundation 2026 kembali hadir dengan peningkatan besar dalam kurikulumnya. Tahun ini, peserta akan mengikuti pelatihan intensif selama 900 jam yang berlangsung sekitar lima hingga enam bulan, seluruhnya dilaksanakan secara daring.

Program yang digelar bersama Dicoding ini menargetkan peserta dari kalangan pelajar SMK dan mahasiswa, dengan komposisi 20 persen siswa SMK dan sisanya mahasiswa perguruan tinggi. Peserta juga dapat mengonversi hasil pelatihan menjadi 20 SKS sesuai kebijakan kampus masing-masing.

Tahun 2026 menghadirkan tiga jalur pembelajaran baru: AI Engineer, Data Scientist, dan Full-Stack Web Developer. Selain fokus pada keterampilan teknis, peserta juga akan mendapat pelatihan soft skill seperti kemampuan wawancara dalam bahasa Inggris, literasi finansial, dan kelas pengembangan diri.

“Dua tahun pertama hanya 300 jam pelatihan, sekarang sudah 900 jam. Jadi lebih intens,” ujar Mona Monika, Head of Group Strategic Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia.

Setiap peserta diharapkan menghasilkan karya nyata sebagai proyek akhir. Karya ini akan menjadi modal berharga ketika melamar pekerjaan atau membangun karier di bidang teknologi.


Coding Camp 2026 Latih Talenta Digital hingga 900 Jam Kolaborasi DBS Foundation dan Dicoding untuk Pendidikan Inklusif

DBS Foundation dan Dicoding terus memperluas akses pendidikan digital. Tahun ini, lebih dari 800 pembimbing profesional dari berbagai industri akan terlibat, sebagian di antaranya merupakan alumni Dicoding.

Program ini juga telah bekerja sama dengan 575 kampus di seluruh Indonesia, serta mendapat dukungan pemerintah. Dirjen Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menyambut positif inisiatif tersebut.

“Program ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan digital siswa SMK. Kami berharap semakin banyak yang ikut,” ungkap Tatang.

Salah satu fokus utama Coding Camp 2026 adalah inklusivitas. Program ini memberi prioritas kepada peserta dari daerah 3T (Terdepan, Tertinggal, dan Terluar), perempuan, serta penyandang disabilitas.

Saat ini, 17 persen peserta perempuan telah bergabung, namun penyelenggara berharap jumlahnya meningkat agar tercipta keberagaman ide dan kolaborasi. CEO Dicoding, Narenda Wicaksono, menegaskan pentingnya dukungan bagi kelompok ini.

“Kami prioritaskan peserta yang progresnya bagus, punya kemampuan kuat, dan berasal dari daerah 3T, perempuan, maupun disabilitas,” ujar Narenda.

Dengan durasi pelatihan yang lebih panjang dan kurikulum yang diperbarui, Coding Camp 2026 diharapkan mampu mencetak talenta digital yang adaptif, kritis, dan siap kerja. Peserta tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga dibekali growth mindset dan semangat continuous learning.

DBS Foundation dan Dicoding optimistis, lulusan program ini akan menjadi motor penggerak transformasi digital Indonesia — menjembatani kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan industri teknologi yang terus berkembang.

pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak