ajibata, Jakarta – Dea Annisa kembali menunjukkan kemampuan aktingnya dalam film horor terbaru berjudul “Asrama Putri”. Dalam film ini, Dea memerankan karakter Gwen, seorang mahasiswi yang harus menghadapi berbagai tantangan psikologis. Selain itu, ia juga diminta memecahkan misteri yang terjadi di lingkungan asrama.
Bagi Dea, karakter Gwen sangat berbeda dari dirinya sehari-hari. Mantan artis cilik ini mengaku penakut terhadap hal-hal berbau horor. Oleh karena itu, peran Gwen menuntut keberanian ekstra.
“Beda banget karakter Gwen sama aku sehari-hari. Gwen ini pemberani, kalau aku penakut banget terhadap hal-hal berbau horor,” ujar Dea Annisa saat ditemui di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Jumat (13/2/2026).
baca juga: James Van Der Beek Meninggal Usai Lawan Kanker Kolorektal
Film Horor yang Mengangkat Isu Sosial
Selain unsur horor, Dea menjelaskan bahwa Asrama Putri ingin membuka mata masyarakat mengenai realitas sosial yang sering dianggap tabu. Film ini merefleksikan kejadian nyata yang dialami mahasiswi di sebuah kampus.
“Intinya ini menceritakan kejadian aneh yang benar-benar terjadi pada mahasiswi di sana. Selain mengungkap sisi mistis, kami juga menyoroti isu sosial yang dekat dengan kehidupan asrama,” jelas Dea.
Film ini bercerita tentang kedatangan dosen baru bernama Mia di kampus ternama di Kota Bogor. Namun, kedatangan Mia justru memicu serangkaian peristiwa mistis yang mengguncang ketenangan civitas akademika.
Konflik di Asrama Putri
Dalam alur cerita, Rektor kampus bernama Liza berusaha menenangkan situasi agar reputasi institusinya tetap baik. Namun, teror gaib semakin agresif menyerang para penghuni. Terutama Loly, mahasiswi yang mentalnya rentan terhadap gangguan makhluk halus.
Selain itu, konflik semakin memanas karena asrama tersebut ternyata menjadi sarang praktik prostitusi terselubung yang dijalankan oleh oknum tertentu. Hal ini menambah ketegangan cerita dan membuatnya lebih kompleks.
Puncak ketegangan muncul saat arwah gentayangan bernama Sally hadir. Kehadirannya selalu menandakan bahaya bagi siapa saja yang ditemui di lorong asrama. Akibatnya, penonton akan merasakan adrenalin tinggi saat menyaksikan adegan tersebut.
Perpaduan Horor dan Pesan Moral
Sutradara Wishnu Kuncoro menyisipkan pesan penting dalam film ini mengenai perbedaan pandangan antara sisi ilmiah dan klenik terkait fenomena kesurupan. Ia menekankan bahwa film ini tidak hanya menakut-nakuti, tetapi juga memberikan ruang refleksi terhadap isu sosial dan psikologis di lingkungan pendidikan.
“Film ini menggabungkan elemen horor dengan pesan sosial, sehingga penonton tidak hanya terhibur, tetapi juga diajak berpikir tentang realitas di sekitar mereka,” jelas Wishnu.
Keaslian Cerita dan Nilai Jual Film
Keaslian cerita menjadi nilai jual utama Asrama Putri, karena naskah dikembangkan berdasarkan kisah nyata yang pernah terjadi di salah satu kampus di Bogor. Hal ini membuat film terasa lebih autentik dan menegangkan bagi penonton.
Selain itu, film ini juga menjadi ajang kolaborasi lintas generasi. Para pemain muda berbakat dipadukan dengan aktor dan aktris berpengalaman. Selain Dea Annisa, film ini dibintangi Samuel Rizal, Nasywa Auliya, Luz Viktoria, dan Surya R Kusumah.
Rumah produksi Puras Production memastikan bahwa film ini akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 19 Februari 2026. Oleh karena itu, penggemar horor bisa segera menikmati pengalaman menegangkan sekaligus penuh pesan moral.
Tantangan Bagi Dea Annisa
Bagi Dea, tantangan terbesar adalah memerankan karakter yang sangat berbeda dari dirinya. Ia harus menunjukkan keberanian, ketegasan, dan ketahanan mental dalam menghadapi adegan horor dan misteri.
Meski begitu, Dea menekankan bahwa dirinya tetap manusia biasa. Ia berharap penonton bisa memisahkan akting profesional dari kehidupan pribadi. Selain itu, ia ingin kinerjanya dinilai dari sisi seni akting, bukan asumsi pribadi.
Dengan durasi tayang, alur cerita kompleks, serta akting menegangkan Dea Annisa, Asrama Putri diyakini mampu menjadi salah satu film horor paling menarik pada awal 2026. Penonton tidak hanya akan disuguhi jumpscare, tetapi juga lapisan cerita yang menyoroti isu sosial dan psikologis di lingkungan pendidikan.
baca juga: Cuma Rp15 Ribu! Alfamart Bakal Punya Bioskop Sendiri, Ini Lokasi Pertamanya











