Dengue Jadi Cermin Kesenjangan Sistem Kesehatan ASEAN

Dengue Jadi Cermin Kesenjangan Sistem Kesehatan ASEAN
Dengue Jadi Cermin Kesenjangan Sistem Kesehatan ASEAN

ajibata, Jakarta – Perbedaan sistem kesehatan di negara-negara ASEAN berdampak besar terhadap kebijakan masing-masing negara dalam menangani lonjakan kasus dengue. Selain itu, ketimpangan kapasitas layanan kesehatan, kesiapan pemantauan penyakit, dan kualitas data kasus masih menjadi tantangan utama di tingkat regional. Oleh karena itu, kecepatan deteksi dini, ketepatan respons, dan kemampuan menekan angka kematian bisa terpengaruh.

Direktur Jenderal Departemen Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand, Dr. Niti Haetanurak, menekankan bahwa kesiapan menghadapi dengue mencerminkan kekuatan sistem kesehatan suatu negara.

“Dengue terjadi setiap tahun. Ini bukan hanya persoalan medis, tapi juga mencerminkan kesiapan sistem kesehatan melindungi masyarakat,” ujar Niti dalam Forum Regional Asia Tenggara Pertama untuk Pencegahan dan Pengendalian Dengue di Jakarta, Senin (9/2/2026).

baca juga: PBI BPJS Kesehatan Dinonaktifkan, YLKI Buka Pengaduan


Singapura dan Vietnam: Surveilans Kuat

Negara seperti Singapura dan Vietnam dianggap lebih siap menghadapi dengue berkat sistem surveilans yang relatif kuat.

Di Singapura, sistem pelaporan digital diwajibkan secara hukum dan terintegrasi dengan data epidemiologi, entomologi, serta kondisi lingkungan. Dengan begitu, deteksi dini dan respons cepat dapat dilakukan saat terjadi lonjakan kasus.

Wakil Direktur Badan Penyakit Menular (CDA) Singapura, Ms. Poh Cuiqin, menyebut bahwa kecepatan pelaporan menjadi kunci pengendalian wabah:

“Data akurat yang dilaporkan dalam 24 jam menjadi dasar respons wabah cepat dan terukur,” ujarnya.

Sementara itu, Vietnam menguatkan surveilans hingga tingkat komunitas melalui deteksi dini kasus dan pengendalian berbasis masyarakat. Pendekatan ini membantu menekan angka kematian meski kasus dengue sempat meningkat.


Tantangan di Thailand

Thailand memiliki sistem surveilans vektor yang relatif kuat dan kampanye pengendalian dengue berkelanjutan. Namun, lonjakan kasus pascapandemi menunjukkan bahwa surveilans saja tidak cukup.

Perubahan iklim memperpanjang musim penularan, pergeseran serotipe virus, dan mobilitas penduduk tinggi menjadi faktor risiko utama. Selain itu, perilaku masyarakat dan koordinasi antarwilayah perlu ditingkatkan agar pengendalian lebih efektif.


Filipina: Ketimpangan Layanan

Sementara itu, Filipina menghadapi tantangan dalam implementasi dan pemerataan respons kesehatan. Beban kasus tinggi, terutama di kota padat penduduk.

Kapasitas layanan kesehatan dan kesiapan deteksi dini belum merata di seluruh wilayah. Akibatnya, keterlambatan diagnosis dan rujukan kasus berat masih terjadi, meningkatkan risiko komplikasi.

Selain itu, koordinasi antarlevel pemerintah dan perbedaan kemampuan rumah sakit menjadi hambatan. Dengan demikian, Filipina perlu memperkuat surveilans lokal dan distribusi sumber daya.


Target Nol Kematian Dengue 2030

Perbedaan tingkat kesiapan antarnegara menjadi perhatian serius untuk mencapai target ASEAN 2030, yakni nol kematian akibat dengue.

Koordinator Program Mitigasi Ancaman Biologis (MBT) Fase 2 Sekretariat ASEAN, Michael Glen, menekankan bahwa target ini hanya tercapai melalui penguatan sistem kesehatan menyeluruh dan kolaborasi lintas negara.

“Target nol kematian pada 2030 hanya dapat tercapai jika setiap negara memperkuat surveilans terintegrasi dan memastikan layanan kesehatan merata,” ujarnya.

Selain itu, Glen menekankan pentingnya strategi gabungan: deteksi dini, respons cepat, edukasi masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor termasuk lingkungan dan pertanian.


Kolaborasi Lintas Sektor

Pencegahan dengue tidak cukup hanya di sektor kesehatan. Vektor nyamuk berkembang biak di lingkungan perkotaan padat.

Oleh karena itu, pengendalian dengue memerlukan:

  1. Pemantauan lingkungan, termasuk pengelolaan genangan air.
  2. Edukasi masyarakat mengenai pencegahan dengue.
  3. Penguatan kapasitas rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk kasus berat.

Kolaborasi ini dinilai kunci mencegah wabah meluas, terutama saat perubahan iklim memperpanjang musim penularan.


Kesimpulan

Dengan demikian, perbedaan sistem kesehatan ASEAN berdampak signifikan pada respons dengue. Singapura dan Vietnam menjadi contoh keberhasilan surveilans dan partisipasi masyarakat. Thailand dan Filipina masih menghadapi tantangan ketimpangan layanan dan kesiapan deteksi dini.

Untuk mencapai target nol kematian 2030, setiap negara perlu memperkuat surveilans berbasis teknologi dan komunitas serta menjalin kolaborasi lintas sektor. Sehingga, strategi pencegahan dengue menjadi efektif, berkelanjutan, dan melindungi warga dari komplikasi serius.

baca juga: Wakil Menteri Tran Van Thuan mengunjungi dan memeriksa pekerjaan layanan kesehatan selama Tahun Baru Imlek (Tahun Kuda) di tiga rumah sakit di Hanoi.

pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak