Groki­pedia Dituding Jiplak Wikipedia, Meta Kena Sanksi UE

Groki­pedia Dituding Jiplak Wikipedia, Meta Kena Sanksi UE
Groki­pedia Dituding Jiplak Wikipedia, Meta Kena Sanksi UE

ajibata.id Groki­pedia Dituding Jiplak Wikipedia, Meta Kena Sanksi UE Ensiklopedia digital Grokipedia, proyek baru dari xAI milik Elon Musk, menjadi sorotan setelah dituding menjiplak Wikipedia. Platform ini, yang masih dalam tahap awal versi v0.1, menampilkan desain dan struktur halaman yang sangat mirip dengan Wikipedia, mulai dari tampilan beranda hingga format entri yang sederhana.

Menurut laporan The Verge (28/10/2025), Grokipedia menghadirkan fitur sunting yang belum sepenuhnya berfungsi. Beberapa halaman memang memiliki tombol “edit”, namun hanya menampilkan riwayat penyuntingan tanpa mencantumkan identitas pengguna yang melakukan perubahan. Pengguna juga belum bisa mengajukan revisi konten sendiri.

Meski digadang-gadang sebagai “ensiklopedia berbasis AI”, banyak pihak menilai Grokipedia belum menunjukkan inovasi berarti dan justru memperlihatkan kemiripan mencolok dengan Wikipedia. Kasus ini menimbulkan perdebatan soal etika penggunaan data publik dalam pelatihan AI dan batas antara inspirasi serta penjiplakan di dunia digital.

Masalah hukum juga menimpa Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram. Komisi Eropa menilai Meta melanggar Digital Services Act (DSA) terkait mekanisme pelaporan konten ilegal di platformnya.

Menurut laporan Arstechnica (28/10/2025), sistem “Pemberitahuan dan Tindakan” Meta dianggap tidak ramah pengguna karena memerlukan terlalu banyak langkah dan diduga memakai “dark patterns” atau desain antarmuka yang menipu. Komisi juga menyoroti sistem banding konten Meta yang tidak memberikan ruang bagi pengguna untuk melampirkan bukti tambahan.

Groki­pedia Dituding Jiplak Wikipedia, Meta Kena Sanksi UE Jika terbukti bersalah, Meta berpotensi dikenai denda hingga 6% dari pendapatan global tahunannya. Saat ini, perusahaan masih memiliki kesempatan untuk mengajukan keberatan sebelum keputusan akhir diumumkan.

Sementara itu, kabar positif datang dari dunia teknologi pendidikan. DBS Foundation bersama Dicoding Indonesia kembali meluncurkan Coding Camp 2026, melanjutkan keberhasilan program tahun sebelumnya yang berhasil melahirkan lebih dari 2.000 talenta digital.

Program pelatihan intensif ini menargetkan 70.000 peserta dari seluruh Indonesia, mencakup mahasiswa, pelajar vokasi, perempuan, dan penyandang disabilitas. Pendaftaran dibuka dari 21 Oktober 2025 hingga 15 Januari 2026, dengan tiga jalur pembelajaran utama: Full-Stack Web Developer, Data Scientist, dan AI Engineer.

DBS Foundation menargetkan 70% tingkat kelulusan, dengan setidaknya 400 proyek digital yang dapat diimplementasikan untuk menyelesaikan masalah sosial. Kolaborasi ini menunjukkan upaya konkret sektor swasta dalam memperkuat ekosistem talenta digital nasional.

baca juga :https://www.liputan6.com/tekno/read/6197570/top-3-tekno-grokipedia-jiplak-wikipedia-hingga-meta-langgar-aturan-digital-uni-eropa?page=4

pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak