ajibata, Jakarta – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mempercepat pembersihan tumpukan kayu limbah dan material sisa banjir serta longsor di sejumlah wilayah Sumatera. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan lingkungan dan aktivitas masyarakat terdampak bencana.
Operasi pembersihan tersebut dilaksanakan secara serentak di Aceh Tamiang, Aceh Utara, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari unit pelaksana teknis Kemenhut, aparat TNI dan Polri, pemerintah daerah, hingga masyarakat setempat.
Selain membersihkan material bencana, operasi ini juga bertujuan membuka kembali akses vital dan memulihkan fasilitas umum yang rusak. Oleh karena itu, pembersihan dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi.
Baca Juga: Marak Penipuan Mengatasnamakan Layanan Resmi
Pembersihan Difokuskan pada Fasilitas Pendidikan dan Rumah Ibadah
Di wilayah Aceh Tamiang dan Aceh Utara, pembersihan dilakukan di kawasan Pesantren Darul Mukhlisin dan Kecamatan Langkahan. Tim gabungan mengerahkan lebih dari 200 personel serta 27 unit alat berat.
Hingga akhir Desember 2025, proses pembersihan di wilayah ini telah mencapai sekitar 40 persen. Fokus utama diarahkan pada tumpukan kayu, lumpur, serta material bangunan yang menutup area pendidikan dan tempat ibadah.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan, mengatakan kegiatan ini tidak hanya menyasar area terbuka. Selain itu, ruang belajar dan masjid juga menjadi prioritas utama.
“Selain menyingkirkan kayu dan lumpur, kami membersihkan ruang belajar dan masjid. Dengan begitu, kegiatan pendidikan dan ibadah dapat segera berjalan,” ujar Subhan, Sabtu (27/12/2025).
Selanjutnya, pembukaan pintu air dan pengeringan area tergenang dilakukan untuk mencegah genangan berulang. Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat pemulihan lingkungan pesantren dan permukiman sekitar.
Libatkan Masyarakat Demi Pemulihan Aktivitas Warga
Sementara itu, di wilayah Langkahan, Aceh Utara, pembersihan difokuskan pada pembukaan akses jalan dan fasilitas publik. Tim gabungan dari Kemenhut, TNI, dan masyarakat membuka jalan sepanjang satu kilometer.
Selain itu, empat kilometer jalan desa tambahan juga berhasil dibersihkan. Akses tersebut sangat penting untuk distribusi bantuan dan mobilitas warga.
Pembersihan juga dilakukan di fasilitas pendidikan, termasuk SD Negeri 12 Langkahan. Dengan terbukanya akses ini, aktivitas belajar mengajar diharapkan segera normal kembali.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, bencana di Aceh Tamiang menyebabkan kerusakan besar. Tercatat 2.800 rumah rusak, puluhan fasilitas umum terdampak, serta dua jembatan mengalami kerusakan berat.
Kondisi tersebut membuat percepatan pembersihan menjadi sangat mendesak. Tanpa akses yang memadai, aktivitas ekonomi dan sosial warga sulit pulih.
Pembersihan di Sumatera Utara Buka Akses Vital
Di Sumatera Utara, pembersihan dilakukan di Desa Aek Ngadol, Desa Gangga, dan kawasan Hutan Godang. Kegiatan meliputi pembersihan kayu di sekitar jembatan dan rumah warga.
Selain itu, tim juga membuat parit untuk saluran air dan menata lalu lintas di kawasan pasar. Langkah ini dilakukan untuk mencegah banjir susulan dan memperlancar aktivitas ekonomi.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat.
“Kami bekerja bersama warga agar akses vital segera pulih. Dengan begitu, aktivitas sosial dan ekonomi bisa kembali berjalan,” kata Novita.
Menurutnya, gotong royong menjadi kunci keberhasilan pembersihan di lapangan. Tanpa partisipasi masyarakat, proses pemulihan akan berjalan lebih lambat.
Pembersihan Pantai Padang Dilakukan Bertahap
Di Sumatera Barat, pembersihan difokuskan pada kawasan pantai Kota Padang. Kegiatan dilakukan oleh rimbawan UPT Kemenhut, Manggala Agni, dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Sejak 20 hingga 23 Desember 2025, sepanjang 5,6 kilometer garis pantai berhasil dibersihkan. Proses ini menggunakan kombinasi alat berat dan kerja manual.
Kepala BBKSDA Sumatera Barat, Hartono, mengatakan pembersihan dilakukan secara bertahap. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan petugas dan efektivitas penanganan.
“Kami memprioritaskan area yang paling terdampak dan ramai aktivitas warga. Pembersihan akan dilanjutkan hingga kawasan muara,” ujar Hartono.
Dengan pembersihan tersebut, kawasan pesisir diharapkan kembali aman dan nyaman bagi masyarakat.
Komitmen Penanganan Berkelanjutan
Secara keseluruhan, Kemenhut menegaskan seluruh kegiatan pembersihan dilakukan secara terkoordinasi dan berkelanjutan. Penanganan limbah bencana juga memperhatikan aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan.
Upaya ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mempercepat pemulihan pascabencana. Selain itu, langkah ini diharapkan mendukung kembalinya aktivitas sosial, pendidikan, dan ekonomi masyarakat.
Dengan kerja sama lintas sektor dan dukungan warga, pembersihan sisa bencana di Sumatera diharapkan segera tuntas. Pemerintah pun memastikan proses pemulihan akan terus dikawal hingga kondisi benar-benar normal kembali.
Baca Juga: Breaking News: Thailand dan Kamboja Sepakati Gencatan Senjata











