Jakarta — ajibata Asisten Profesor Bagus Muljadi dari Universitas Nottingham menilai, kerja sama Indonesia–Malaysia di sektor semikonduktor memiliki potensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Hal ini semakin penting mengingat ketergantungan global terhadap kecerdasan buatan (AI) yang terus meningkat.
Menurut Bagus, penguasaan desain chip dan foundry akan menentukan posisi suatu negara dalam perekonomian global. “Siapapun yang menguasai desain chip dan foundry semikonduktor akan sangat merajai dunia, mengingat over reliance on AI di hampir semua sektor ekonomi,” ujarnya kepada Liputan6.com, Sabtu (7/2/2026).
baca juga: UMKM Busana Muslim Tangerang Perluas Pasar Berkat BRI
Tantangan Membangun Kapabilitas Semikonduktor
Bagus menekankan, membangun industri semikonduktor bukan perkara mudah. Berdasarkan pengalamannya menempuh studi di Taiwan, industri semikonduktor Taiwan jauh berada di atas negara lain dalam hal desain chip dan manufaktur.
“Taiwan semikonduktor manufacturing itu head and shoulders above any other countries ketika bicara chip design dan foundry,” kata Bagus.
Ia menyebut dua tantangan utama. Pertama, sulitnya mentranslasikan kemampuan teknologi dari negara yang sudah mapan ke negara baru yang memulai. Kedua, kualitas sumber daya manusia (SDM). Di Taiwan, mahasiswa terbaik justru memilih masuk ke bidang ini.
“The best talents go to semikonduktor research. Di Indonesia, kita harus bertanya, ke mana talenta terbaik pergi? Jawabannya, bukan ke semikonduktor,” ujar Bagus.
Selain itu, Bagus menekankan bahwa ini bukan hanya soal desain chip. Sektor ini membutuhkan keterlibatan banyak disiplin ilmu, mulai dari matematika, fisika, hingga riset pada skala nanoscopic dan kuantum.
“Semikonduktor itu bermain di domain nanoscopic, di mana continuum approximation dalam fisika sudah breakdown dan masuk ke zona kuantum,” ungkapnya.
Pendanaan Riset Masih Belum Mendukung
Sayangnya, Bagus menilai Indonesia belum kuat di area tersebut. Minimnya publikasi ilmiah nasional di bidang nanoscopic dan semikonduktor menjadi sorotan. Hal ini menunjukkan bahwa research expertise di Indonesia masih terbatas.
Selain itu, arah pendanaan riset juga dinilai belum mendukung pengembangan secara serius. Bagus menilai pemerintah sering berhenti di level jargon kebijakan, tanpa implementasi nyata di lapangan.
“Kalau dilihat dari jurnal-jurnal kita, baik jumlah paper maupun jurnalnya, itu sangat-sangat sedikit. Artinya, research expertise kita memang belum main jauh di sana,” katanya.
Pendanaan yang terbatas membuat penelitian lanjutan sulit dilakukan. Padahal, inovasi semikonduktor membutuhkan laboratorium mutakhir, mesin fabrikasi canggih, dan tim peneliti kompeten yang bisa bekerja di level internasional.
Perlu Keberanian Politik
Bagus menekankan, jika Indonesia ingin serius berbicara di dunia semikonduktor, termasuk melalui potensi kerja sama dengan Malaysia, negara harus hadir lebih aktif. Lembaga seperti BRIN atau unit desain teknologi perlu mengartikulasikan pertanyaan riset yang jelas dan spesifik.
Langkah ini membutuhkan keberanian politik. Tanpa dukungan pemerintah yang konsisten, riset dan pengembangan semikonduktor bisa berhenti sebagai slogan.
“Tidak cukup hanya menggelontorkan jargon high level. Itu butuh keberanian politik supaya riset dan pendanaan benar-benar bergerak ke arah semikonduktor,” pungkas Bagus.
Potensi Kerja Sama Indonesia–Malaysia
Kerja sama dengan Malaysia bisa menjadi langkah strategis. Malaysia telah memiliki ekosistem semikonduktor yang lebih matang dan mampu menjadi mitra dalam transfer teknologi. Kolaborasi ini dapat mempercepat pembangunan kapabilitas di Indonesia, mulai dari desain chip hingga manufaktur.
Selain itu, integrasi riset kedua negara bisa membuka peluang bagi talenta muda Indonesia untuk terlibat langsung dalam proyek, sehingga mengurangi ketergantungan pada tenaga ahli luar negeri.
Semikonduktor sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Bagus menilai, keberhasilan di sektor semikonduktor akan berdampak signifikan pada ekonomi Indonesia. Tidak hanya untuk industri teknologi tinggi, tetapi juga untuk sektor lain yang menggunakan AI sebagai penggerak utama, seperti transportasi, kesehatan, dan manufaktur.
Jika dikelola dengan baik, bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru, memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global, serta mendorong inovasi teknologi domestik.
Ia menegaskan, Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia, kreativitas, dan basis pendidikan yang dapat dibangun menjadi fondasi semikonduktor. Namun, hal ini membutuhkan komitmen jangka panjang, riset intensif, dan investasi berkelanjutan.
Kesimpulan
Indonesia berada di persimpangan strategis. Kerja sama dengan Malaysia, investasi riset, dan keberanian politik menjadi kunci agar semikonduktor tidak sekadar menjadi wacana. Dengan dukungan yang tepat, sektor ini bisa mengangkat Indonesia menjadi pemain penting dalam ekonomi global berbasis teknologi, sekaligus mendukung adopsi AI yang kian mendalam di berbagai sektor.
baca juga: Bansos Beras 664 Ribu Ton Disalurkan ke 33 Juta Penerima, Jumlah Penerima Bertambah











