Kurs USD Hari Ini: Rupiah Menguat Tipis

Kurs USD Hari Ini: Rupiah Menguat Tipis
Kurs USD Hari Ini: Rupiah Menguat Tipis

ajibata, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap Kurs USD Dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa (10/2/2026). Kurs rupiah tercatat menguat 6 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.799 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.805 per dolar AS.

Menurut Lukman Leong, analis mata uang Doo Financial Futures, penguatan ini dipicu saran pemerintah China untuk mengurangi kepemilikan obligasi Amerika Serikat. “Rupiah berpotensi kembali menguat karena dolar AS melemah. Hal ini terjadi setelah laporan bahwa pemerintah China mendorong lembaga keuangan untuk mengurangi kepemilikan obligasi AS,” ujar Lukman, dikutip Antara.

baca juga: Kurs Dolar AS Turun Tipis, Prediksi Rupiah Hari Ini


China Lepas Obligasi AS

Lukman menambahkan, pemerintah China telah bertahun-tahun melepas obligasi AS. Saat ini, China berharap institusi domestik melakukan hal serupa. Saran ini muncul akibat ketidakpercayaan terhadap aset tersebut serta hubungan yang mendingin antara kedua negara.

Selain itu, langkah China berpotensi menekan Kurs USD dolar AS. Dengan melemahnya dolar, mata uang negara berkembang seperti rupiah menjadi lebih menarik bagi investor. Namun, penguatan rupiah diperkirakan tetap terbatas karena investor menanti data penjualan ritel Indonesia bulan Desember 2025.

“Data penjualan ritel diperkirakan tumbuh 5,5 persen dibanding bulan sebelumnya 6,3 persen. Hal ini membuat pasar berhati-hati,” jelas Lukman.

Berdasarkan kondisi tersebut, rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp16.750-Rp16.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini.


Kurs Rupiah Kemarin

Sebelumnya, Kurs USD dolar AS terhadap rupiah juga sempat melemah tipis pada awal pekan. Hal ini seiring membaiknya sentimen pasar global, yang mendorong penguatan mata uang negara berkembang.

Pada pembukaan perdagangan Senin (9/2/2026), rupiah tercatat menguat 4 poin atau sekitar 0,02 persen menjadi Rp16.872 per dolar AS. Sebelumnya, kurs dolar berada di level Rp16.876 per dolar AS. Dengan demikian, penguatan rupiah terjadi secara bertahap dalam dua hari terakhir.


Intervensi Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Gubernur Perry Warjiyo menekankan, bank sentral tidak akan ragu melakukan intervensi besar, baik di pasar domestik maupun luar negeri, agar rupiah tetap sejalan dengan fundamental ekonomi.

“Langkah intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, termasuk non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta intervensi langsung di pasar spot,” jelas Perry dalam Konferensi Pers RDG Januari 2026, Rabu (21/1/2026).

Selain itu, Perry menegaskan bahwa intervensi merupakan bagian dari bauran kebijakan stabilisasi yang terus ditingkatkan. Hal ini seiring dinamika pasar global yang fluktuatif.

Dengan demikian, pasar mendapat sinyal bahwa BI siap menjaga rupiah agar tidak melemah tajam, meski tekanan eksternal meningkat.


Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Penguatan rupiah juga ditopang oleh fundamental ekonomi domestik yang solid. Perry menyebut, imbal hasil aset keuangan domestik masih menarik. Inflasi yang mereda dan prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik turut mendukung stabilitas rupiah.

“Kami akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dukungan datang dari imbal hasil menarik, inflasi yang rendah, dan prospek ekonomi membaik,” tegas Perry.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia berada pada level sangat memadai. Cadangan ini lebih dari cukup untuk mendukung langkah stabilisasi nilai tukar rupiah jika diperlukan.

“Cadangan devisa kami cukup besar, bahkan lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” tambah Perry.


Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Rupiah

Melemahnya dolar AS menjadi faktor utama yang memicu penguatan rupiah. Investor global semakin berhati-hati karena ketegangan perdagangan dan penurunan kepercayaan China terhadap obligasi AS.

Sementara itu, pelaku pasar juga menantikan rilis data ekonomi Amerika Serikat, termasuk nonfarm payrolls, klaim pengangguran, dan inflasi. Data tersebut diperkirakan menjadi penentu arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) selanjutnya.

Ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga di AS membuat aset aman seperti emas dan rupiah lebih menarik. Dengan suku bunga lebih rendah, biaya peluang memegang rupiah lebih kecil dibandingkan aset dolar AS.


Outlook Rupiah Minggu Ini

Dengan kombinasi faktor internal dan eksternal, rupiah berpotensi menguat secara moderat. Namun, penguatan diperkirakan terbatas karena investor masih menunggu data ritel domestik dan keputusan moneter AS.

Selain itu, dukungan intervensi BI dan fundamental ekonomi Indonesia tetap menjadi faktor penopang. Dengan demikian, volatilitas rupiah bisa terjaga di kisaran Rp16.750-Rp16.900 per dolar AS untuk beberapa hari ke depan.

Perry juga menegaskan, BI akan terus memantau kondisi pasar dan menyesuaikan kebijakan stabilisasi bila diperlukan. Tujuannya adalah menjaga kepercayaan pasar, melindungi daya beli, dan mendukung kegiatan ekonomi nasional.

baca juga: Pengusaha wanita Dong Thi Anh: Teguh dalam menjunjung tinggi integritas di dunia bisnis.

pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak