Umum  

Longsor TPST Bantargebang, Fahira Soroti Sampah Hulu

Longsor TPST Bantargebang, Fahira Soroti Sampah Hulu
Longsor TPST Bantargebang, Fahira Soroti Sampah Hulu

Jakarta, ajibata – Tragedi longsor gunungan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat bahwa persoalan sampah bukan sekadar masalah kebersihan, tetapi juga keamanan, keselamatan, dan keberlanjutan tata kelola lingkungan. Peristiwa yang mengakibatkan korban jiwa ini menyoroti risiko tinggi yang dihadapi tempat pemrosesan akhir sampah akibat akumulasi timbunan selama puluhan tahun.

Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta, Fahira Idris, menyampaikan duka mendalam atas insiden tersebut. Menurutnya, TPST Bantargebang menanggung beban besar sebagai tempat pemrosesan akhir sampah Jakarta, yang setiap hari menerima ribuan ton sampah dari berbagai wilayah ibu kota. Akumulasi sampah yang tinggi meningkatkan risiko longsor dan menuntut pengelolaan yang lebih aman dan berkelanjutan.

“Persoalan ini tidak bisa hanya dilihat sebagai masalah teknis di lokasi TPST semata. Bantargebang sejatinya merupakan hilir dari seluruh sistem pengelolaan sampah perkotaan. Ketika pengurangan dan pengolahan sampah di hulu tidak berjalan optimal, maka beban tersebut pada akhirnya akan menumpuk di tempat pemrosesan akhir,” jelas Fahira Idris, Rabu (11/3/2026).

baca juga: Viral Bandeng Mentah MBG, BGN Pastikan Ikan Matang


Persoalan Sampah: Tidak Hanya Masalah Teknis

Tragedi ini menekankan bahwa pengelolaan sampah tidak boleh dilihat semata sebagai tanggung jawab TPST atau pihak operator. Sistem pengelolaan sampah perkotaan harus berjalan secara menyeluruh, mulai dari rumah tangga, komunitas, hingga fasilitas pemrosesan akhir.

Fahira Idris menekankan perlunya penguatan pengelolaan sampah di hulu, terutama di tingkat rumah tangga. Kebiasaan memilah sampah dari sumber, memisahkan sampah organik, daur ulang, dan residu, harus menjadi kebiasaan yang dibangun secara sistematis agar proses pengolahan menjadi lebih efektif.

“Di Jepang misalnya, warga diwajibkan memilah sampah dalam berbagai kategori yang sangat rinci. Kebiasaan ini membuat sebagian besar sampah dapat didaur ulang atau diolah sebelum sampai ke landfill,” jelas Fahira.

Selain itu, penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) di tingkat komunitas perlu dipercepat. Fasilitas ini memungkinkan pengolahan sampah dilakukan lebih dekat dengan sumber, sehingga volume sampah yang dikirim ke TPST dapat berkurang signifikan.


Extended Producer Responsibility (EPR)

Fahira Idris juga menyoroti pentingnya penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) secara tegas. EPR menekankan tanggung jawab produsen terhadap kemasan produk yang mereka hasilkan, sehingga pengelolaan limbah tidak sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah.

“Banyak negara Eropa telah menerapkan EPR dengan tegas. Produsen ikut menanggung tanggung jawab pengelolaan limbah kemasan, sehingga pemerintah tidak harus menanggung seluruh beban,” katanya.

Dengan kebijakan ini, produsen terdorong untuk merancang produk dan kemasan yang lebih ramah lingkungan serta meminimalkan limbah, sekaligus menciptakan sistem ekonomi sirkular.


Langkah Jangka Pendek dan Menengah

Fahira Idris menekankan bahwa penguatan di hulu harus dibarengi langkah strategis jangka pendek dan menengah untuk mengurangi tekanan terhadap TPST Bantargebang.

1. Langkah Jangka Pendek

  • Optimalisasi fasilitas pengolahan yang ada, termasuk pemanfaatan RDF plant (Refuse Derived Fuel) untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif. Teknologi ini dapat mengurangi volume sampah yang harus ditimbun di TPST.
  • Penguatan sistem pemantauan timbunan sampah di TPST. Pemantauan rutin dapat mengidentifikasi titik-titik rawan longsor sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat.
  • Peningkatan kesadaran dan partisipasi pekerja dan masyarakat sekitar TPST untuk menjaga keamanan saat aktivitas pengelolaan sampah berlangsung.

2. Langkah Jangka Menengah

  • Pembangunan fasilitas pengolahan modern untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem penimbunan. Fasilitas ini harus mampu mengolah sampah secara efisien dan aman.
  • Pemanfaatan teknologi Waste-to-Energy (WtE) sebagai bagian dari solusi pengolahan sampah, bukan satu-satunya. WtE dapat menghasilkan energi listrik dari sampah, tetapi tidak bisa menggantikan pentingnya pengurangan sampah di hulu.

“Tanpa penguatan pengelolaan sampah di hulu, fasilitas WtE pada akhirnya hanya akan menjadi penyerap akhir dari sistem yang tetap menghasilkan sampah dalam jumlah besar,” tegas Fahira.


Pelajaran dari TPST Bantargebang

Tragedi Bantargebang menjadi alarm nasional bahwa pengelolaan sampah harus terpadu dan berkelanjutan. Beberapa poin penting yang bisa diambil antara lain:

  1. Pentingnya pengurangan sampah di hulu, mulai dari rumah tangga, sekolah, dan komunitas.
  2. Pemilahan sampah sejak dari sumber untuk mendukung daur ulang dan pengolahan lebih efisien.
  3. Penguatan fasilitas TPS3R agar lebih dekat dengan masyarakat.
  4. Pengawasan ketat terhadap timbunan akhir di TPST untuk meminimalkan risiko longsor.
  5. Kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah, produsen, komunitas, dan masyarakat.

Fahira menekankan bahwa pengelolaan sampah yang baik tidak hanya menyelesaikan masalah kebersihan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan.


Kolaborasi Semua Pihak

Menurut Fahira, solusi pengelolaan sampah yang efektif memerlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan komunitas lingkungan. Tanpa kolaborasi ini, risiko bencana seperti longsor di TPST Bantargebang dapat terus terjadi.

“Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan komunitas lingkungan, kita dapat membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih aman, lebih berkelanjutan, bernilai ekonomi dan berdampak luas,” pungkasnya.

Keterlibatan produsen dalam EPR, warga dalam memilah sampah, dan pemerintah dalam membangun fasilitas pengolahan modern menjadi kunci terciptanya sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.


Tragedi longsor TPST Bantargebang menegaskan bahwa pengelolaan sampah lebih dari sekadar masalah kebersihan kota. Sistem ini memengaruhi keselamatan warga, keberlanjutan lingkungan, dan efektivitas infrastruktur pengelolaan sampah.

Fahira Idris mengingatkan bahwa langkah paling berkelanjutan adalah penguatan pengelolaan sampah di hulu, pemilahan dari rumah tangga, dan pembangunan TPS3R yang lebih kuat. Sementara itu, teknologi seperti RDF dan WtE bisa menjadi bagian dari solusi, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya fokus.

Dengan pendekatan holistik, kolaboratif, dan berorientasi jangka panjang, Indonesia dapat menciptakan sistem pengelolaan sampah yang aman, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

baca juga: Piche Kota Ditahan Terkait Kasus Pemerkosaan

pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak