ajibata, Jakarta – PT Aneka Tambang Tbk atau Antam kembali menjadi sorotan pasar dengan pergerakan harga perak yang signifikan. Pada Sabtu, 14 Maret 2026, harga perak Antam dipatok sebesar Rp 50.850 per gram. Kondisi ini menarik perhatian investor yang mencari alternatif investasi di tengah tingginya harga emas.
Penurunan harga perak hari ini tercatat sebesar Rp 2.300 dari perdagangan sebelumnya, yakni Rp 53.150 per gram. Hal ini sejalan dengan dinamika harga emas Antam, yang juga mengalami koreksi, sehingga menunjukkan bahwa pasar logam mulia sangat responsif terhadap sentimen global.
baca juga: Kisah Putri Wulandari Menata Masa Depan dengan Bukalapak
Volatilitas Harga Perak Antam
Harga perak Antam mengalami fluktuasi cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Penurunan signifikan pada 14 Maret 2026 menjadi Rp 50.850 per gram merupakan kelanjutan tren koreksi sebelumnya. Pada Jumat, 13 Maret 2026, harga perak turun Rp 150 menjadi Rp 53.150, setelah sehari sebelumnya berada di level Rp 53.300.
Selain itu, gejolak harga perak Antam juga sejalan dengan pergerakan harga perak dunia. Misalnya, pada 9 Maret 2026, harga perak sempat anjlok Rp 2.000 menjadi Rp 51.100 per gram. Hal ini menunjukkan bahwa logam mulia ini sangat sensitif terhadap perkembangan pasar global.
Di sisi lain, terdapat periode kenaikan yang patut dicermati. Pada 27 Februari 2026, harga perak naik Rp 150 menjadi Rp 55.100 per gram. Bahkan, pada 19 Februari 2026, perak melonjak Rp 800 menjadi Rp 48.400 dari Rp 47.600. Dengan kata lain, fluktuasi harga memberikan peluang bagi investor yang mampu membaca tren pasar.
Pilihan Produk Perak Antam untuk Investor
Antam menawarkan berbagai produk perak, tidak hanya dalam satuan gram kecil tetapi juga batangan besar. Misalnya, perak batangan 250 gram pada 14 Maret 2026 dibanderol Rp 13.237.500, belum termasuk PPN 11%. Sedangkan perak batangan 500 gram seharga Rp 25.550.000 pada hari yang sama, juga belum termasuk pajak.
Selain itu, Antam memiliki perak butiran murni 99,95% yang digunakan untuk bahan baku kerajinan dan perhiasan. Produk ini menunjukkan diversifikasi Antam dalam memenuhi kebutuhan pasar.
Perlu dicatat bahwa harga perak batangan Antam mengalami perubahan seiring waktu. Pada 27 Januari 2026, perak 500 gram dibanderol Rp 33.375.000, sedangkan perak 250 gram dijual Rp 17.087.500, semuanya belum termasuk PPN. Antam juga memiliki Perak Heritage 31,1 gram seharga Rp 2.546.025 dan 186,6 gram seharga Rp 14.154.346, keduanya juga belum termasuk PPN.
Bagi investor pemula, perak murni 5 gram dipatok sekitar Rp 477.500, sedangkan 10 gram dijual Rp 852.500, sehingga bisa menjadi pilihan awal untuk memulai investasi logam mulia.
Perak Sebagai Alternatif Investasi
Perak sering dianggap sebagai instrumen investasi menarik, terutama ketika harga emas sudah tinggi dan sulit dijangkau sebagian investor. Dengan demikian, perak menjadi pilihan relevan bagi mereka yang ingin diversifikasi portofolio tanpa harus mengeluarkan modal besar.
Selain berperan sebagai logam investasi, perak juga memiliki fungsi industri, sehingga memberikan stabilitas nilai dan potensi pertumbuhan. Kenaikan harga perak yang sejalan dengan emas, seperti pada 27 Februari 2026, mencerminkan sentimen positif di pasar logam mulia.
Produk perak batangan Antam diproduksi dengan akurasi tinggi, menjamin kemurnian dan kualitas. Hal ini memberikan rasa aman bagi investor terhadap keaslian dan nilai investasi.
Meskipun harganya sensitif terhadap berbagai faktor pasar, perak tetap menawarkan peluang keuntungan. Oleh karena itu, investor disarankan memantau pergerakan harga Antam secara cermat dan memahami dinamika pasar, agar bisa memanfaatkan fluktuasi harga untuk mencapai tujuan investasi.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, harga perak Antam menunjukkan volatilitas yang tinggi tetapi tetap menarik bagi investor. Penurunan harga pada 14 Maret 2026 menjadi Rp 50.850 per gram menunjukkan respons pasar terhadap sentimen global dan pergerakan harga emas.
Dengan berbagai pilihan produk, mulai dari perak batangan kecil hingga besar, Antam menyediakan alternatif investasi yang fleksibel. Investor disarankan tetap waspada dan menggunakan informasi terbaru sebagai dasar pengambilan keputusan investasi, sehingga peluang keuntungan dapat dimaksimalkan tanpa mengambil risiko berlebihan.
baca juga: Indonesia Bakal Impor Migas Rp 253,2 Triliun per Tahun











