Umum  

Pramono Bentuk Petugas Atasi Ikan Sapu-Sapu Jakarta

Pramono Bentuk Petugas Atasi Ikan Sapu-Sapu Jakarta
Pramono Bentuk Petugas Atasi Ikan Sapu-Sapu Jakarta

Jakarta (ajibata) – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berencana membentuk petugas Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) khusus untuk menangani persoalan ikan sapu-sapu yang semakin mendominasi perairan ibu kota. Langkah ini diambil karena populasi ikan invasif tersebut dinilai terus meningkat dan sulit dikendalikan melalui kegiatan insidental atau seremonial.

Menurut Pramono, penanganan ikan sapu-sapu membutuhkan strategi yang berkelanjutan dan terorganisasi. Oleh karena itu, Pemprov DKI akan menugaskan petugas khusus yang bekerja secara fokus di lapangan.

“Secara khusus nanti kami akan tugaskan PJLP yang bertugas untuk itu,” kata Pramono usai meninjau gerakan tangkap ikan sapu-sapu di Saluran RW 06, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).

baca juga: Polda Metro Jaya Ungkap Pabrik Ekstasi di Apartemen Jaktim

Pengendalian Akan Dilakukan Secara Sistematis

Selanjutnya, Pramono menegaskan bahwa pengendalian ikan sapu-sapu tidak bisa dilakukan secara sporadis. Sebaliknya, diperlukan pola kerja yang sistematis di seluruh saluran air dan sungai di Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa petugas PJLP akan difokuskan untuk mengurangi populasi ikan tersebut secara langsung di lapangan. Dengan demikian, pengendalian dapat berjalan lebih konsisten.

“Artinya ini yang kemudian menjadi PR bagi Pemerintah Jakarta, kami akan konsentrasi dan untuk itu nanti akan ada penugasan secara khusus PJLP yang menangani ikan sapu-sapu ini,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah daerah juga akan mengevaluasi metode pengendalian yang selama ini dilakukan. Langkah ini diambil agar hasilnya lebih optimal dan berkelanjutan.

Pertumbuhan Cepat Jadi Tantangan Serius

Di sisi lain, Pramono mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu memiliki kemampuan reproduksi yang sangat cepat. Dalam satu kali bertelur, jumlahnya bisa mencapai ratusan hingga ribuan telur.

“Saya juga baru tahu kenapa ikan sapu-sapu yang perempuan itu rata-rata lebih gemuk. Telurnya satu ikan itu bisa 1.000 lebih ya, 300 sampai 3.000. Jadi bertelurnya cepat banget,” ungkapnya.

Karena itu, ia menilai populasi ikan ini dapat meningkat secara eksponensial jika tidak dikendalikan secara serius. Bahkan, dominasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta disebut sudah mencapai lebih dari 60 persen.

Dominasi Ekosistem Perairan Jakarta

Lebih lanjut, Pramono menekankan bahwa keberadaan ikan sapu-sapu sudah menjadi ancaman ekologis di perairan ibu kota. Dominasi yang terlalu tinggi dapat mengganggu keseimbangan ekosistem sungai dan saluran air.

Oleh sebab itu, Pemprov DKI berupaya melakukan pengurangan populasi secara bertahap. Gerakan tangkap ikan yang sudah dilakukan akan terus diperluas ke berbagai wilayah.

“Maka dengan demikian sekali lagi gerakan ini untuk mengurangi dominasi yang terlalu berlebihan ikan sapu-sapu yang ada di Jakarta ini,” kata Pramono.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem perairan. Partisipasi publik dinilai penting untuk mendukung program pemerintah.

Pendekatan Terpadu dari Para Ahli

Sementara itu, pakar ikan dan konservasi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Dr Charles PH Simanjuntak, menilai bahwa pengendalian ikan sapu-sapu harus dilakukan secara terpadu. Menurutnya, tidak ada satu metode tunggal yang dapat menyelesaikan masalah ini.

“Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis,” ujarnya.

Dengan demikian, pendekatan pengendalian harus dilakukan dari berbagai sisi sekaligus. Hal ini penting agar hasilnya lebih efektif dalam jangka panjang.

Pencegahan dan Keterlibatan Masyarakat

Selain penangkapan langsung, Charles menekankan pentingnya pencegahan sejak awal. Pemerintah perlu memperketat regulasi perdagangan ikan hias agar ikan sapu-sapu tidak dilepas ke perairan umum.

Selain itu, edukasi masyarakat juga menjadi faktor penting. Kesadaran publik harus ditingkatkan agar tidak sembarangan melepas ikan ke sungai atau saluran air.

Menurutnya, pelibatan komunitas lokal juga dapat membantu mengurangi populasi ikan sapu-sapu. Namun, ia menekankan bahwa upaya ini harus dilakukan secara berkelanjutan.

“Karena itu, perlu dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan sapu-sapu yang telah ditangkap juga perlu dimusnahkan untuk mengurangi jumlahnya,” jelasnya.

Kontrol Biologis dan Tantangannya

Lebih lanjut, Charles menjelaskan bahwa kontrol biologis juga dapat menjadi salah satu solusi. Beberapa predator alami dapat dimanfaatkan untuk mengurangi populasi ikan sapu-sapu, terutama pada fase juvenil.

Namun demikian, efektivitas metode ini masih terbatas. Hal ini karena predator hanya mampu memangsa ikan pada ukuran tertentu.

Selain itu, kondisi ekosistem Jakarta yang berbeda dengan habitat asli ikan sapu-sapu juga menjadi tantangan tersendiri. Di Sungai Amazon, misalnya, ikan ini memiliki banyak predator alami.

Spesies Invasif dengan Daya Tahan Tinggi

Charles juga menegaskan bahwa ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif dengan kemampuan adaptasi tinggi. Dalam satu siklus reproduksi, seekor betina dapat menghasilkan hingga 19.000 telur.

Selain itu, tingkat kelangsungan hidup telur juga sangat tinggi karena perlindungan dari induk jantan. Hal ini membuat populasi ikan ini berkembang sangat cepat.

“Ikan ini juga bersifat omnivora dan memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap berbagai sumber makanan,” ujarnya.

Dengan karakteristik tersebut, ikan sapu-sapu menjadi salah satu spesies yang sulit dikendalikan di lingkungan baru.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, permasalahan ikan sapu-sapu di Jakarta menunjukkan tantangan serius dalam pengelolaan ekosistem perkotaan. Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta berupaya membentuk PJLP khusus sebagai langkah pengendalian yang lebih terstruktur.

Di sisi lain, para ahli menekankan pentingnya pendekatan terpadu yang mencakup pencegahan, penangkapan, dan kontrol biologis. Dengan kombinasi strategi tersebut, diharapkan populasi ikan invasif ini dapat ditekan secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan pengendalian tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan dan keseimbangan ekosistem perairan Jakarta.

baca juga: 20 Truk Dikerahkan Angkut Sampah di TPS Kramat Jati