Wafda Saifan dan Ibrahim Risyad Angkat Isu Riba di Film Horor

Wafda Saifan dan Ibrahim Risyad Angkat Isu Riba di Film Horor
Wafda Saifan dan Ibrahim Risyad Angkat Isu Riba di Film Horor

ajibata.id – Wafda Saifan dan Ibrahim Risyad Angkat Isu Riba di Film Horor Film Riba menjadi salah satu karya horor Indonesia yang siap meramaikan akhir 2025. Film garapan sutradara Adhe Dharmastriya ini diangkat dari utas viral berjudul Getih Anak karya Mitologue dan diproduksi oleh Verona Pictures.
Dibintangi oleh Wafda Saifan, Ibrahim Risyad, dan Fanny Ghassani, film ini akan tayang di bioskop mulai 4 Desember 2025. Poster dan trailer resmi Riba telah dirilis pekan ini dan langsung menarik perhatian warganet.

Kisah Sugi yang Terjerat Utang Riba

Riba mengisahkan Sugi (Ibrahim Risyad), pria sederhana yang hidup damai bersama istrinya Rohmah (Fanny Ghassani), dua anak mereka, Dimas (Kevin Danu) dan Bening (Emilat Morshedi), serta ibu mertua Lastri (Jajang C. Noer). Kehidupan Sugi berubah drastis ketika ia terjerat utang berbasis riba.
Dalam keputusasaan, Sugi bertemu Muji (Wafda Saifan) yang menawarkannya jalan keluar melalui ritual pesugihan berdarah bernama Getih Anak. Namun, alih-alih membawa solusi, ritual tersebut justru menghadirkan konsekuensi mengerikan yang mengguncang keluarga Sugi.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Wafda Saifan mengaku memiliki pengalaman pribadi yang membuatnya bisa memahami karakter Muji. Ia pernah menghadapi beban kredit yang membuat keuangan terasa sempit.

“Maksudnya aku pernah ada kredit. Uang tuh ada, tapi karena cicilan ini, rasanya kayak enggak pernah cukup,” ungkapnya.
Menurut Wafda, meskipun nominalnya tidak besar, tekanan membayar cicilan bulanan memberikan beban psikologis tersendiri. Pengalaman itu membuatnya lebih mudah menghayati karakter yang bergulat dengan tekanan finansial dalam film Riba.

BACA JUGA :di Sini

Wafda Saifan dan Ibrahim Risyad Angkat Isu Riba di Film Horor Ibrahim Risyad Pegang Prinsip “Beli Kalau Sudah Punya Uang”

Berbeda dengan Wafda, Ibrahim Risyad menegaskan bahwa dirinya berusaha menghindari utang dalam kehidupan nyata. Ia memiliki prinsip sederhana dalam mengatur keuangan agar tetap bebas dari tekanan finansial.

“Kalau mau beli sesuatu, harus punya uang dulu. Bahkan lebih dari nominalnya, baru aku beli,” katanya.
Meski memiliki prinsip pantang berutang, Ibrahim mengaku tetap bisa berempati terhadap karakter Sugi yang dilanda stres akibat riba dan tekanan ekonomi.

Proses syuting film Riba dilakukan pada bulan Ramadan. Kondisi berpuasa justru membantu para aktor menyalurkan emosi dengan lebih intens.

“Kita syuting di bawah terik matahari saat puasa. Haus dan lelah justru bikin emosi makin keluar,” ujar Ibrahim.
Sutradara Adhe Dharmastriya menilai kondisi tersebut memberi kedalaman emosional pada adegan-adegan berat, terutama saat menggambarkan keputusasaan dan rasa bersalah karakter utama.

Film Riba tidak hanya menawarkan teror dan ketegangan, tetapi juga pesan moral tentang bahaya jeratan riba dan dampaknya terhadap keluarga. Melalui kisah Sugi, film ini mengajak penonton untuk merenungkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kesederhanaan dalam mengelola keuangan.
Dengan tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan elemen horor yang kuat, Riba berpotensi menjadi salah satu film Indonesia yang paling diperbincangkan di akhir tahun 2025.

BACA JUGA :di Sini

pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak