Wamenekraf Dorong Inklusivitas Aktivasi Kreatif Jelang Imlek

Wamenekraf Dorong Inklusivitas Aktivasi Kreatif Jelang Imlek
Wamenekraf Dorong Inklusivitas Aktivasi Kreatif Jelang Imlek

Jakarta (ajibata) – Wamenekraf Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar mendorong penguatan inklusivitas melalui aktivasi kreatif di ruang publik. Menurutnya, ruang publik tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul, tetapi juga dapat menjadi medium interaksi, literasi, dan kolaborasi lintas komunitas.

“Tradisi kreativitas modern harus menghadirkan pengalaman bersama yang menggerakkan ekosistem kreatif dan partisipasi masyarakat,” ujar Irene dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini bertujuan membangun pengalaman kolektif yang tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga edukatif. Oleh karena itu, Kementerian Ekraf mendorong hadirnya karya kreatif yang mampu menyentuh masyarakat secara luas, termasuk anak-anak dan keluarga.

baca juga: Isu 3 Anak, Denada Ingatkan Penebar Punya Risiko Hukum

Aktivasi Kreatif Sambut Imlek

Salah satu bentuk aktivasi kreatif yang akan digelar bertepatan dengan suasana Imlek adalah instalasi film Na Willa produksi Visinema. Film ini mengangkat cerita keluarga keturunan Tionghoa dengan latar budaya yang kaya dan penuh nilai kebersamaan.

Aktivasi tersebut rencananya digelar di Lapangan Banteng, Jakarta. Lokasi ini dipilih karena menjadi pusat perayaan Imlek Nusantara sekaligus ruang publik yang mudah diakses masyarakat. Selain itu, akan disiapkan pula area khusus seperti Kids Corner, yang konsepnya serupa dengan fasilitas ramah anak di bandara dan stasiun.

Menurut Irene, karya kreatif seperti film memiliki kekuatan besar sebagai medium literasi. Tidak hanya menyampaikan cerita, film juga bisa menjadi ruang belajar inklusif bagi anak-anak dan keluarga. Dengan demikian, ruang publik dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi yang menyenangkan.

Cerita Multikultural dalam Perspektif Anak

Film Na Willa sendiri berkisah tentang seorang anak perempuan berusia enam tahun yang memiliki mimpi besar. Latar cerita mengambil Surabaya pada era 1960-an, tepatnya di kawasan Gang Krembangan. Melalui sudut pandang Na Willa yang polos dan penuh rasa ingin tahu, penonton diajak menyelami dinamika keluarga multikultural.

Ayah Na Willa merupakan keturunan Tionghoa, sementara sang ibu berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Perpaduan latar belakang budaya ini menjadi inti cerita yang hangat dan sarat pesan toleransi. Selain itu, kisah petualangan Na Willa bersama teman-temannya menghadirkan nuansa sederhana namun bermakna tentang persahabatan dan kebersamaan.

Perspektif dunia anak dinilai efektif dalam membangun empati. Anak-anak dapat melihat representasi diri mereka di layar, sedangkan orang tua memperoleh sudut pandang baru dalam memahami tumbuh kembang buah hati. Oleh sebab itu, film ini diyakini mampu memperkuat literasi keluarga sekaligus membuka ruang dialog lintas generasi.

Roadshow dan Perpustakaan Berjalan

Tidak berhenti pada penayangan film, Visinema juga menyiapkan rangkaian aktivasi lanjutan. Film Na Willa akan melakukan roadshow bus bertajuk “Kamar Na Willa” ke berbagai kota. Program ini menghadirkan pengalaman interaktif yang memungkinkan anak-anak dan keluarga merasakan atmosfer cerita secara langsung.

Selain itu, akan hadir perpustakaan berjalan bernama “Kelana Aksara”. Program ini bertujuan meningkatkan minat baca anak melalui pendekatan yang lebih dekat dan menyenangkan. Aktivasi juga direncanakan hadir di transportasi publik dan taman kota, sehingga menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Langkah ini menunjukkan bahwa film tidak hanya berhenti sebagai tontonan, melainkan berkembang menjadi gerakan literasi. Dengan pendekatan tersebut, ekosistem kreatif dapat bergerak secara kolaboratif, melibatkan pembuat konten, komunitas literasi, hingga pemerintah daerah.

Ruang Diskusi dalam Keluarga

Chief Content Officer Visinema Studios sekaligus produser film Na Willa, Anggia Kharisma, menyampaikan bahwa karakter dalam film dirancang sebagai teman tumbuh bagi anak dan keluarga Indonesia.

“Film Na Willa bisa dijadikan ruang diskusi, terutama ruang-ruang internal dalam keluarga. Ceritanya memantik orang tua untuk mengajak anak lebih sering membaca dan menikmati tulisan mereka sendiri,” ujar Anggia.

Ia menambahkan bahwa cerita anak memiliki posisi yang sama pentingnya dengan kisah orang dewasa. Melalui karakter yang kuat dan dekat dengan realitas, anak-anak dapat belajar memahami emosi, identitas, serta nilai kebersamaan.

Lebih lanjut, film yang diadaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo ini diharapkan mampu merayakan identitas anak-anak Indonesia. Baik melalui konten digital maupun aktivasi fisik, film ini membawa misi penguatan literasi jelang perayaan Imlek Nasional hingga menuju Lebaran 2026.

Komitmen Penguatan Ekosistem Kreatif

Dukungan terhadap Na Willa sejalan dengan komitmen Kementerian Ekraf dalam memperkuat ekosistem kreatif nasional. Sebelumnya, kementerian juga memberikan dukungan terhadap film Jumbo sebagai bagian dari strategi pengembangan perfilman Indonesia.

Menurut Irene, penguatan ekosistem kreatif tidak hanya berfokus pada produksi karya. Namun, yang lebih penting adalah menciptakan ruang kolaborasi dan partisipasi publik. Dengan demikian, sektor ekonomi kreatif dapat tumbuh berkelanjutan dan memberi dampak sosial yang nyata.

Melalui aktivasi kreatif di ruang publik, pemerintah berharap masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari karya anak bangsa. Inklusivitas pun menjadi nilai utama, karena setiap individu memiliki kesempatan untuk terlibat dan menikmati pengalaman kreatif bersama.

Pada akhirnya, film Na Willa bukan sekadar karya sinema. Ia hadir sebagai simbol kolaborasi, literasi, dan perayaan keberagaman budaya Indonesia. Dengan pendekatan yang menyentuh dunia anak dan keluarga, aktivasi ini diharapkan mampu memperkuat ikatan sosial sekaligus mendorong pertumbuhan ekosistem kreatif nasional.

baca juga: Tak Akan Kembali ke Industri Musik, Britney Spears Jual Hak Katalog Seharga Rp3,3 Triliun

pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak